BANJARBARU — Kepala BPAM Banjarbakula Siddiq Wahyu Pamungkas menyebut perbaikan pipa transmisi utama menjadi kunci pulihnya suplai air baku untuk proses pengolahan di Instalasi Pengolahan Air (IPA/WTP). Petugas internal masih melakukan pemantauan berkala agar jaringan tetap aman dan distribusi lancar.
Pemantauan tidak hanya menyasar pipa, tetapi juga sumber air baku. Tinggi Muka Air (TMA) di Intake Mandikapau kini tercatat sekitar 4,2 meter, naik dari sebelumnya di kisaran 3,5 meter.
Sementara TMA Bendung Karang Intan berada pada kisaran 9,65 meter dan masih berstatus normal. Menurut Wahyu, angka-angka itu menjadi indikator penting untuk menjaga ketersediaan air baku bagi proses pengolahan dan penyaluran air curah ke para offtaker.
Fasilitas pengambilan air curah gratis terus dibuka bagi warga yang masih kesulitan akses air bersih. Program itu berlangsung kurang lebih empat bulan, sejak awal musim kekeringan pada Juli 2026.
“Bantuan difokuskan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak, khususnya di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru,” kata Wahyu, Jumat (23/10/2026).
Pelaksanaannya melibatkan lintas instansi. BPAM Banjarbakula bersinergi dengan BPBD Kabupaten Banjar, BPBPK Provinsi Kalimantan Selatan, Balai Wilayah Sungai (BWS), dan instansi terkait lain.
Selain kebutuhan rumah tangga, BPAM Banjarbakula menyalurkan dukungan air bagi posko penanganan kebakaran hutan dan lahan. Langkah itu disebut sebagai kontribusi menghadapi kondisi darurat yang berpotensi meluas selama musim kering.
“Melalui fasilitas pengambilan air curah gratis tersebut, masyarakat dan pihak yang terlibat dalam penanganan kekeringan dapat memperoleh dukungan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan di wilayah terdampak,” ujar Wahyu.
Menurutnya, sinergi antarinstansi menjadi kunci menghadapi tantangan kekeringan. BPAM Banjarbakula berkomitmen menjaga operasional sistem air baku sekaligus mendukung penanganan dampak kekeringan dan karhutla di wilayah Banjarbakula.