KALIMANTAN SELATAN — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan koreksi pasar saham Amerika Serikat hingga 20% jika lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) gagal menghasilkan peningkatan produktivitas yang diharapkan. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2028 bisa berada 1,1 poin persentase di bawah proyeksi dasar akibat guncangan tersebut. Dampaknya terhadap Asia diproyeksikan lebih dalam, dengan pertumbuhan kawasan berpotensi 1,7 poin persentase lebih rendah dari perkiraan awal.
Kepala Ekonom IMF Silvana Tenreyro menilai ketahanan ekonomi global mulai menghadapi batasnya di tengah tekanan konflik geopolitik dan ketidakpastian pasar. Peringatan ini disampaikan IMF di tengah derasnya arus belanja pusat data, infrastruktur komputasi, dan teknologi pendukung AI yang menjadi salah satu penopang permintaan ekonomi dunia.
IMF menggambarkan lonjakan investasi AI sebagai guncangan permintaan yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Arus belanja ke sektor teknologi mampu mendorong aktivitas ekonomi dalam jangka pendek.
Namun, apabila hasil investasi tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, valuasi perusahaan teknologi berisiko terkoreksi. Penurunan harga saham AS kemudian dapat merambat ke pasar keuangan negara lain, menekan kekayaan investor, serta mengurangi belanja dan investasi.
IMF memperkirakan dampak terhadap Asia lebih besar dibandingkan kawasan lain. Pertumbuhan ekonomi Asia berpotensi 1,7 poin persentase lebih rendah dari perkiraan awal jika koreksi pasar AS benar-benar terjadi.
Risiko ini muncul karena pasar keuangan dan perekonomian sejumlah negara semakin terhubung. Koreksi tajam di Wall Street dapat memicu penyesuaian portofolio investor global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi di kawasan.
Tekanan tidak hanya datang dari sektor teknologi. IMF memperingatkan konflik geopolitik dan gangguan pasokan energi turut membayangi prospek pertumbuhan dan inflasi dunia.
Gangguan di kawasan Teluk berpotensi mendorong inflasi global melampaui 5% pada 2027, dengan probabilitas sekitar 35%. Tekanan harga energi menjadi salah satu pemicu utama risiko tersebut.
Kemampuan pemerintah merespons guncangan ekonomi juga menyusut akibat kenaikan utang. IMF memproyeksikan utang publik negara-negara maju mencapai 115% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2031, naik dari 108% pada 2025.
Sementara itu, utang negara berkembang diperkirakan meningkat dari 74% menjadi 84% PDB pada periode yang sama. Kondisi ini membatasi ruang fiskal untuk menstimulus ekonomi saat tekanan datang.
Bagi investor di pasar domestik, peringatan IMF ini menjadi sinyal untuk mencermati eksposur portofolio terhadap saham teknologi global dan aset berdenominasi dolar AS. Koreksi di pasar AS biasanya diikuti aliran modal keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
IMF menuturkan arah pertumbuhan global tidak merata. Sejumlah negara diuntungkan oleh kuatnya permintaan terkait AI, sementara negara lain lebih rentan terhadap guncangan pasokan akibat konflik.
"Ekonomi global tidak sekadar melambat atau berakselerasi; sebaliknya, pertumbuhan sedang dialokasikan ulang antarnegara berdasarkan tingkat keterpaparan mereka terhadap guncangan pasokan akibat perang dan kuatnya permintaan yang didorong oleh akal imitasi (AI)," ujar Tenreyro.
Kombinasi risiko tersebut membuat prospek ekonomi global bergantung pada kemampuan investasi AI menghasilkan manfaat ekonomi nyata, sekaligus kemampuan pemerintah dan bank sentral mengantisipasi tekanan dari pasar keuangan, energi, dan fiskal.