KALIMANTAN SELATAN — Indeks KOSPI Korea Selatan merosot 2,14% pada perdagangan Senin (12/10/2026) pukul 09.04 WIB, memperpanjang pelemahan ke level terendah dalam lebih dari sebulan. Tekanan datang setelah serangan terbaru kelompok Houthi ke Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan energi. Harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas USD104 per barel menambah beban sentimen pasar saham Asia.
Serangan tersebut kembali menyalakan kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan, yang berujung pada gangguan pasokan energi global. Kekhawatiran itu tercermin dari harga minyak mentah Brent yang masih bertahan di atas level USD104 per barel.
Level Brent di atas USD104 per barel menjadi sinyal bahaya bagi pasar saham Asia. Harga energi yang tinggi berpotensi mendorong kembali tekanan inflasi di negara-negara pengimpor minyak seperti Korea Selatan, Jepang, dan China.
Bagi investor, kenaikan biaya energi berarti margin perusahaan manufaktur dan transportasi berpotensi tergerus. Inflasi yang kembali naik juga mengurangi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Selain faktor geopolitik, pasar saham Asia juga menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil US Treasury. Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang naik membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik bagi investor global.
Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut di Amerika Serikat turut memperkuat aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Kombinasi tiga faktor ini, yakni konflik Timur Tengah, harga minyak tinggi, dan yield US Treasury naik, menciptakan tekanan berlapis bagi bursa Asia.
Meski KOSPI tertekan, bursa saham Asia lainnya bergerak beragam. Sebagian indeks di kawasan masih mampu bertahan di zona positif, meski kenaikannya terbatas oleh sentimen global yang memburuk.
Investor akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dalam beberapa sesi ke depan. Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap pasar saham Asia diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.