Tony Adams Ungkap Pelajaran Manajerial dari Jose Mourinho

Penulis: Budi Santoso  •  Minggu, 11 Oktober 2026 | 19:20:31 WIB
Tony Adams mengungkap pelajaran manajerial dari Jose Mourinho.

KALIMANTAN SELATAN — Tony Adams mengungkap pelajaran berharga dari Jose Mourinho saat dirinya beralih dari pemain menjadi manajer. Mantan kapten Arsenal dan timnas Inggris itu mengakui bahwa kesuksesan di lapangan tidak otomatis membuatnya sukses di bangku pelatih. Mourinho memberi penilaian blak-blakan yang sampai kini membekas di benaknya.

Setelah pensiun pada 2002 usai karier seperempat abad sebagai pesepak bola, Adams membayangkan masa depan di kursi manajer. Bek tengah yang namanya diabadikan lewat patung di luar Emirates Stadium itu sempat mengira pengalamannya sebagai pemain akan cukup jadi modal. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Salah satu orang yang paling cepat menyadarkan Adams adalah Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu menempuh jalan berbeda menuju puncak: bertahun-tahun mempelajari profesi kepelatihan sebelum meraih sukses manajerial.

Pesan Blak-blakan Mourinho yang Tak Pernah Dilupakan Adams

Mourinho menyampaikan pesan sederhana namun tajam. Menjadi pesepak bola kelas dunia tidak otomatis menjadikan seseorang pelatih kelas dunia.

"Dia selalu memanggil saya Simon," kenang Adams kepada FourFourTwo. "Dia bilang, 'Simon, kamu sudah jadi pesepak bola 25 tahun, saya belajar 25 tahun, kamu masih banyak yang harus dikejar'."

Adams mengaku langsung menerima penilaian itu. "Saya pikir, ya, dia benar. Saya harus belajar kepelatihan, saya harus belajar manajemen," ujarnya.

Holland hingga Azerbaijan Jadi Ruang Belajar Adams

Nasihat Mourinho itu membentuk cara Adams memandang karier manajerialnya. Alih-alih sekadar mengingat nama klub, ia lebih memilih mengingat pelajaran dari setiap pengalaman.

"Holland, Spanyol, China, Azerbaijan — semuanya mengajarkan saya sesuatu," lanjutnya.

Adams lantas mengenang masa kepemimpinannya di Gabala, klub Liga Premier Azerbaijan. Sang pemilik klub saat itu menyampaikan ambisi besarnya.

"Di Azerbaijan, pemilik klub bilang, 'Saya ingin akademi terbaik di Azerbaijan, fasilitas terbaik di bekas Uni Soviet, kalau kita lolos ke Eropa itu luar biasa'. Saya jawab, 'Kalau begitu Anda butuh bandara internasional'," tutur Adams.

Gabala dan Warisan yang Bertahan Bertahun-tahun

Pemilik klub tertawa mendengar usulan itu. Namun visi Adams perlahan terwujud.

"Dia tertawa juga, tapi bandaranya dibangun. Kami membangun tujuh lapangan rumput kualitas terbaik, fasilitas paling bagus," katanya.

Adams juga mendatangkan pelatih-pelatih Belanda karena menilai mereka pengembang pemain muda terbaik di Eropa. Tujuannya jelas: membangun sesuatu yang tetap berdiri lama setelah ia pergi.

Hasilnya terlihat nyata. "85 persen timnas Azerbaijan sekarang lahir dari akademi itu," ujar Adams.

Bagi Adams, pelajaran awal dari Mourinho benar-benar membekas. Menjadi pesepak bola hebat hanyalah titik awal perjalanan menuju kursi pelatih. Buku Adams berjudul 1996: Reflections On The Year That Changed My Life kini sudah tersedia.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top