KALIMANTAN SELATAN — Herbalife Indonesia bersama Yayasan Cita Sehat resmi meluncurkan Program Pencegahan Stunting dan Sanitasi Berbasis Masyarakat di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Program ini dirancang berjalan tiga tahun, dari 2026 sampai 2028.
Pada tahun pertama, program ditargetkan menyentuh 275 penerima manfaat langsung. Mereka mencakup ibu hamil dan menyusui, calon ibu, keluarga rentan, kader Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), serta petugas lapangan keluarga berencana.
Peluncuran berlangsung di Poskesdes Kedungkeris. Herbalife menyerahkan tujuh paket peralatan pemantauan tumbuh kembang anak untuk masing-masing Posyandu di desa tersebut, plus paket nutrisi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan calon ibu.
Program ini berdiri di atas tiga pilar utama. Pertama, nutrisi dan kesehatan. Kedua, edukasi masyarakat dan peningkatan kapasitas. Ketiga, peningkatan fasilitas kesehatan dan sanitasi.
Kegiatannya meliputi dukungan nutrisi, pendampingan kehamilan dan menyusui, pelatihan kader desa, edukasi tumbuh kembang anak, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ada juga dukungan bertahap untuk penyediaan toilet layak, fasilitas kesehatan desa, dan jaringan air minum.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, menyebut pencegahan stunting butuh penanganan yang menyentuh banyak aspek sekaligus.
"Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya Herbalife tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga mencakup edukasi perubahan perilaku, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan setempat, serta perbaikan lingkungan dan sanitasi," ujar Oktrianto.
Yayasan Cita Sehat akan melibatkan bidan desa, konselor laktasi, dan kader Posyandu untuk mendampingi keluarga yang membutuhkan. Pendekatan berbasis masyarakat dipilih agar bantuan tepat sasaran.
"Pendekatan berbasis masyarakat diperlukan agar pendampingan dapat diberikan secara tepat sasaran," kata Direktur Yayasan Cita Sehat, Ali Mujianto.
Program ini juga menjadi bagian dari implementasi nota kesepahaman (MoU) Herbalife Indonesia dengan Kementerian Kesehatan periode 2024–2029 untuk mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Kepala Desa Kedungkeris, Rusdi Martono, mengapresiasi dukungan berbagai pihak terhadap fasilitas Posyandu di wilayahnya.
"Bangunan ini bukan sekadar simbol, tetapi juga menjadi fasilitas dan sumber daya tambahan untuk memperkuat semangat serta upaya kita dalam mencegah stunting di Desa Kedungkeris," kata Rusdi.
Poskesdes Kedungkeris sendiri baru diresmikan pada Agustus 2026. Fasilitas Posyandu yang sebelumnya dibangun Herbalife di Sendowo Kidul dialihfungsikan menjadi Poskesdes atas permintaan otoritas kesehatan setempat, karena dinilai sudah memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Selain program di desa, ibu bisa ikut memantau tumbuh kembang anak lewat buku KIA dan kunjungan rutin ke Posyandu. Timbang berat badan, ukur tinggi badan, dan catat lingkar kepala setiap bulan.
Kalau berat badan anak tidak naik dua bulan berturut-turut, atau tinggi badannya jauh di bawah anak seusia, segera konsultasi ke bidan desa atau puskesmas. Deteksi dini jauh lebih murah daripada penanganan setelah stunting terjadi.
Kolaborasi tiga tahun ini menggabungkan nutrisi, perubahan perilaku, dan perbaikan lingkungan. Harapannya, anak-anak di Kedungkeris bisa tumbuh optimal sejak seribu hari pertama kehidupannya.