BANJARMASIN — Kemewahan sebuah perayaan ulang tahun pribadi justru beradu dengan penderitaan warga akibat bencana kabut asap. Inilah yang terjadi saat Masrupah Syarifuddin, istri Sekda Kalimantan Selatan Roy Rizali Anwar, menggelar pesta ulang tahunnya yang ke-58 di sebuah restoran di Banjarmasin pada Jumat (28/8) lalu.
Perayaan bertema "Kembali Muda" itu meminta para tamu undangan hadir dengan dress code seragam SMA. Momen kebersamaan yang tampak ceria tersebut kemudian diunggah ke berbagai platform media sosial dan langsung memancing reaksi keras dari warganet.
Kritik tajam yang dialamatkan kepada Masrupah bukan tanpa alasan. Momen pesta tersebut berlangsung di tengah krisis kabut asap yang melanda hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan akibat karhutla. Warga tak hanya menghadapi gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga keterbatasan aktivitas di luar rumah.
Di saat banyak orang tua kesulitan melindungi anak-anak mereka dari paparan asap dan memilih tetap di dalam rumah, pesta yang menampilkan kemeriahan dan kemewahan justru terasa seperti bentuk nirempati.
Kondisi kabut asap tahun ini bukan hal baru bagi masyarakat Kalsel. Setiap musim kemarau, warga di sejumlah kabupaten/kota seperti Banjarmasin, Banjarbaru, dan kabupaten tetangga kerap harus berhadapan dengan udara tercemar. Namun, momen perayaan yang dipublikasikan secara luas ini yang kemudian dianggap melewati batas kepatutan.
Komentar pedas membanjiri kolom komentar akun-akun yang mengunggah video dan foto pesta tersebut. Banyak yang menyayangkan mengapa perayaan semacam itu tetap digelar tanpa mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang sedang kesulitan.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi pejabat dan keluarganya bahwa publik kini mengawasi secara ketat. Di era media sosial, setiap langkah dan gaya hidup pejabat beserta istri atau suaminya dapat dengan mudah menjadi konsumsi publik. Kontras antara kemewahan pribadi dan penderitaan warga adalah hal yang paling cepat memicu kemarahan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Masrupah maupun Sekda Kalsel Roy Rizali Anwar terkait polemik tersebut. Namun, persoalan ini setidaknya membuka diskusi tentang pentingnya kepekaan sosial bagi para pemimpin daerah dan keluarga mereka, terutama pada masa-masa sulit seperti bencana kabut asap akibat karhutla.