BANJARBARU — Krisis air akibat El Nino kini menjadi momok baru dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. Bukan hanya luasnya area yang terbakar, para petugas justru dihadapkan pada persoalan yang lebih mendasar: sumber air yang semakin sulit ditemukan di lapangan.
“Kalau logistik uangnya ada, tapi kalau logistik airnya enggak ada, ini susah sekali kita menanggulangi,” ujar Hanif Faisol Nurofiq saat memberikan arahan usai apel di Pos Pantau Pengayuan, Banjarbaru.
Perhatian utama pemerintah pusat tertuju pada kondisi Waduk Riam Kanan. Kawasan ini bukan sekadar sumber air baku, melainkan memiliki fungsi strategis ganda yang menopang kehidupan warga Kalsel.
Selain menjadi pemasok air untuk kebutuhan PDAM dan irigasi pertanian, waduk ini juga menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kontribusi sekitar 30 megawatt. Ancaman penurunan debit air di Riam Kanan otomatis membahayakan operasional listrik dan distribusi air bersih bagi masyarakat.
“Riam Kanan selain berfungsi sebagai dam, ada PLTA yang berkontribusi 30 MW. Itu harus kalau nanti disesuaikan dan menjadi alternatif yang harus dipikirkan, maka itu harus penting disiapkan sekarang,” tegas mantan Kepala Dinas Kehutanan Kalsel tersebut.
Menindaklanjuti kekhawatiran tersebut, Hanif menyatakan akan berkoordinasi dengan tim pemerintah provinsi untuk melakukan pengecekan langsung ke Riam Kanan. Langkah ini diambil untuk memetakan kondisi terkini dan merumuskan langkah antisipasi sebelum ketersediaan air semakin menipis.
“Ini harus selesai secepatnya sebelum logistik air semakin berkurang,” jelasnya.
Selain Riam Kanan, perhatian juga diberikan pada intake PDAM yang tersebar di sejumlah sumber air. Pemerintah khawatir jika operasi pemadaman karhutla memakan terlalu banyak air, maka tekanan terhadap kebutuhan air harian masyarakat akan semakin besar.
Di tengah keterbatasan air ini, Hanif meminta agar operasi pemadaman di kawasan Guntung Damar dan Liang Anggang dipercepat. Ia juga memerintahkan penguatan patroli di titik-titik rawan untuk mencegah munculnya kembali api yang telah padam.
Percepatan ini dinilai penting karena lahan gambut yang terbakar akan semakin sulit ditangani jika air yang tersedia untuk penyiraman atau pembasahan lahan sudah tidak mencukupi. Kondisi ini menjadi ironi ketika upaya penyelamatan lingkungan justru terhambat oleh dampak lingkungan yang sedang terjadi.