BANJARBARU — Dua titik kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di wilayah Banjarbaru pada Sabtu (22/8/2026) sore dipastikan tidak mengganggu aktivitas warga. Jarak lokasi kebakaran yang cukup jauh dari permukiman membuat dampak asap terhadap pemukiman minim.
Kendati demikian, warga mengaku intensitas kabut asap di Banjarbaru sepanjang awal Agustus hingga pekan ketiga bulan ini cukup mengganggu. Kondisi tersebut sempat memengaruhi aktivitas harian, terutama bagi kelompok lanjut usia dan anak-anak yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Memasuki Sabtu sore, sejumlah warga mulai berani kembali beraktivitas di luar rumah tanpa alat pelindung diri. Mereka menilai kualitas udara sudah jauh lebih baik dibandingkan pekan-pekan sebelumnya yang diselimuti kabut tebal.
Pantauan di sejumlah ruas jalan utama Banjarbaru, jarak pandang pengendara juga mulai normal. Tidak terlihat lagi kepulan asap pekat yang sebelumnya menyelimuti kawasan permukiman dan area perkantoran.
Kebakaran yang terjadi pada hari Sabtu berlokasi di area lahan kosong dan semak belukar yang tidak berdekatan dengan rumah penduduk. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah kejadian sebelumnya yang kerap kali mengganggu penglihatan dan kesehatan warga di sekitar lokasi.
Meski demikian, potensi meluasnya kebakaran tetap menjadi perhatian. Angin kencang dan cuaca panas yang melanda wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa pekan terakhir dapat mempercepat perambatan api jika tidak segera ditangani.
Fenomena kabut asap yang melanda Banjarbaru sepanjang Agustus ini merupakan imbas dari musim kemarau yang menyebabkan lahan kering mudah terbakar. Sebagian besar titik api yang muncul di Kalimantan Selatan dipicu oleh aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun tidak.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat dampaknya tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga kesehatan warga sekitar. Pelaku pembakaran lahan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.