KALIMANTAN SELATAN — Kebijakan insentif motor listrik yang digulirkan pemerintah pada 2023 lalu sempat menjadi katalis utama penjualan Alva dan Gesits. Namun, setelah program tersebut resmi dihentikan pada 2025, grafik penjualan kedua merek tersebut langsung menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar motor listrik Tanah Air belum sepenuhnya matang.
Program bantuan pemerintah sebesar Rp 7 juta per unit untuk pembelian motor listrik baru memang terbukti ampuh mendongkrak angka penjualan. Alva dan Gesits, sebagai dua merek yang memenuhi syarat, menjadi penerima manfaat utama sekaligus barometer keberhasilan kebijakan tersebut.
Pada periode insentif berjalan, konsumen yang tadinya ragu akhirnya memutuskan membeli. Selisih harga setelah subsidi membuat motor listrik lebih kompetitif dibandingkan motor bensin entry-level. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan periode pasca-insentif.
Begitu insentif dicabut, harga Alva dan Gesits kembali ke posisi semula. Alhasil, selisih harga dengan motor konvensional yang sudah mapan seperti Honda BeAT atau Yamaha Mio kembali terasa sangat jauh. Konsumen kelas menengah bawah yang sempat melirik motor listrik akhirnya kembali beralih ke motor bensin.
Penurunan penjualan ini bukan semata soal harga beli, tapi juga menyangkut biaya kepemilikan jangka panjang. Tanpa subsidi, nilai depresiasi motor listrik bekas cenderung lebih tinggi dibanding motor bensin, membuat konsumen berpikir dua kali untuk berinvestasi.
Meski insentif menjadi pemicu utama, pencabutan subsidi bukanlah satu-satunya alasan penurunan penjualan. Masalah infrastruktur pengisian daya yang belum merata di luar Pulau Jawa masih menjadi pekerjaan rumah besar. Konsumen di kota-kota kecil kesulitan menemukan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang memadai.
Selain itu, perilaku konsumen Indonesia yang terbiasa dengan ekosistem bengkel dan suku cadang motor bensin yang melimpah juga membuat mereka enggan pindah ke motor listrik. Kekhawatiran akan biaya penggantian baterai yang mahal dan waktu pengisian yang lama masih membayangi calon pembeli.
Pengalaman Alva dan Gesits ini menjadi pelajaran penting. Insentif memang efektif untuk mendorong adopsi awal, tapi tanpa diiringi perbaikan ekosistem secara menyeluruh, pertumbuhan pasar motor listrik akan rapuh.
Pemerintah dan pabrikan perlu bekerja sama membangun infrastruktur pengisian yang lebih masif dan transparan soal biaya perawatan baterai. Jika tidak, tren penurunan penjualan ini berpotensi berlanjut dan membuat target elektrifikasi nasional semakin sulit tercapai.
Untuk konsumen yang saat ini mempertimbangkan membeli motor listrik bekas Alva atau Gesits, penting untuk memeriksa kondisi kesehatan baterai secara menyeluruh. Biaya penggantian unit baterai bisa mencapai puluhan juta rupiah, hampir setengah dari harga motor baru. Pastikan garansi baterai masih berlaku dan cek riwayat servis kendaraan sebelum memutuskan transaksi.