KALIMANTAN SELATAN — Cloudflare merilis laporan triwulanan yang mendokumentasikan penyebab gangguan internet global sepanjang kuartal kedua 2026. Data dari Cloudflare Radar menunjukkan bahwa pemadaman besar tidak selalu disebabkan oleh bencana alam, melainkan juga kegagalan teknis sederhana dan bahkan konflik geopolitik.
Laporan ini mencatat setidaknya satu topan super, dua gempa bumi, pemadaman listrik nasional, hingga tiga belas kali pemadaman internet yang terkait ujian sekolah pemerintah. Yang paling mengejutkan, sebuah pembaruan kunci kriptografi rutin sempat membuat seluruh situs web dengan domain .de di dunia tidak dapat diakses.
Pada 5 Mei 2026, DENIC selaku pengelola domain .de melakukan rotasi kunci DNSSEC, prosedur penggantian kunci kriptografi untuk menandatangani catatan DNS. Proses ini menghasilkan tanda tangan yang tidak valid, sehingga resolver DNSSEC di seluruh dunia menolak semua permintaan pencarian domain .de karena dianggap sebagai indikasi manipulasi.
Dampaknya, situs web Jerman tidak dapat dimuat, email memantul, dan aplikasi mengalami waktu tunggu. Menariknya, volume kueri DNS global untuk domain .de justru meningkat selama pemadaman, menunjukkan pengguna aktif mencari cara alternatif untuk mengakses situs tersebut. Layanan normal baru pulih pada pukul 23.15 UTC.
Serangan drone Iran yang menargetkan fasilitas di kawasan Teluk menjadi sorotan utama. Dua fasilitas AWS di Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan terkena dampak langsung, menyebabkan lalu lintas HTTP ke wilayah cloud me-central-1 tetap rendah. AWS mengonfirmasi pada akhir April 2026 bahwa region tersebut rusak akibat konflik dan tidak dapat mendukung aplikasi pelanggan secara andal.
Insiden ini memperlihatkan pergeseran titik ketergantungan internet. Jika sebelumnya kabel laut bawah laut menjadi infrastruktur paling rentan, kini pusat data cloud menjadi target fisik yang lebih mudah dilokasi dan diserang. Sementara itu, Iran yang sempat memutus akses internet selama 88 hari sejak 28 Februari, baru menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada 26 Mei. Trafik internetnya hanya kembali ke 40 persen dari level sebelum pemadaman, dan kini stabil di angka 59 persen.
Topan Super Sinlaku, badai terkuat musim 2026, melintasi Kepulauan Mariana pada pertengahan April. Meski tidak menghantam Guam secara langsung, angin kencang memutus aliran listrik dan sistem air, menyebabkan lalu lintas internet di wilayah itu turun hingga 80 persen pada 13-14 April.
Venezuela kehilangan konektivitas pada 24 Juni setelah dua gempa bumi berkekuatan besar mengguncang wilayah utara dalam rentang waktu satu menit. Gangguan terlihat jelas pada jaringan Fibex Telecom yang melayani sekitar 1,6 juta pengguna. Tiga hari kemudian, Tanzania mengalami pemadaman listrik yang menyebabkan penurunan tajam lalu lintas HTTP selama lima jam. Cloudflare menyoroti kemiripan pola data pemadaman tak sengaja ini dengan pemadaman yang disengaja saat pemilu 2025 lalu.
Di kawasan Karibia, Saint Lucia kehilangan hampir seluruh konektivitasnya pada 21 Juni akibat terputusnya kabel serat optik dekat pulau tersebut. Trafik jaringan Karib Cable, penyedia terbesar di sana, jatuh ke nol dan membuat lalu lintas nasional turun 60 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Laporan Cloudflare menegaskan bahwa internet modern sangat terkonsentrasi. Satu kunci registry dapat mengunci seluruh domain nasional, satu penyedia dapat melumpuhkan satu negara, dan satu region cloud dapat menjadi titik gagal tunggal. Bagi pengguna di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya redundansi koneksi dan strategi mitigasi risiko, baik untuk layanan bisnis maupun kebutuhan pribadi.