KALIMANTAN SELATAN — Pelindo Kuala Tanjung mengambil peran aktif dalam transformasi logistik nasional. Melalui pelatihan yang digelar secara hybrid ini, perusahaan pelat merah tersebut berupaya memastikan seluruh pemangku kepentingan di pelabuhan siap mengadopsi sistem digital yang terintegrasi. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program pemerintah yang menargetkan implementasi PAB di 12 pelabuhan pada tahap keempat. Sistem Satu Siklus untuk Hilangkan Biaya Siluman
Persoalan utama logistik Indonesia selama ini adalah inefisiensi akibat proses yang tumpang tindih. Implementasi PAB menjawab persoalan tersebut dengan menghadirkan sistem satu siklus melalui SSm Pengangkut. Artinya, seluruh dokumen dan izin diproses dalam satu pintu digital yang terintegrasi dengan Indonesia National Single Window (INSW).
Peserta pelatihan, yang terdiri dari perwakilan instansi pemerintah, perusahaan pelayaran, dan pelaku usaha, dibekali materi teknis mulai dari tata cara pendaftaran akun INSW hingga pemanfaatan Nomor PAB untuk penerbitan akses masuk ke area pelabuhan. Sesi praktik dan tanya jawab juga digelar untuk memastikan para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya di lapangan.
Narasumber yang dihadirkan pun berasal dari berbagai institusi kunci. Mereka adalah Heri Susanto dari Kementerian Perhubungan, Hari Waskito dari Lembaga National Single Window (LNSW), dan Dimas Hariyanto Sudarpi dari Pelindo. Kehadiran mereka menegaskan sinergi antarlembaga dalam mewujudkan ekosistem logistik yang transparan. Komitmen Pelindo Tekan Biaya Tinggi Logistik
General Manager Pelindo Regional 1 Cabang Kuala Tanjung, Indri Gunawan, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya menjadi penonton dalam proses reformasi logistik ini. Menurutnya, efisiensi adalah kata kunci yang harus diwujudkan bersama.
“Pelindo senantiasa mendukung implementasi kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan logistik nasional. Melalui implementasi Pemberitahuan Perdagangan Antarpulau Barang (PAB), diharapkan tercipta kemudahan dalam proses bisnis kepelabuhanan dan distribusi barang, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa serta mendukung kelancaran arus logistik nasional,” ujar Indri Gunawan.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Di lapangan, PAB dirancang untuk memangkas waktu tunggu kapal dan barang di pelabuhan. Sistem yang terintegrasi juga meminimalisir potensi pungutan liar yang kerap membebani pelaku usaha. Hal ini sejalan dengan arahan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) yang turut hadir dalam acara tersebut. Mengapa Ini Penting untuk Ekonomi Sumatera Utara?
Pelabuhan Kuala Tanjung bukan pelabuhan kecil. Lokasinya yang strategis di pantai timur Sumatera menjadikannya pintu gerbang utama distribusi barang ke kawasan industri di Sumatera Utara dan sekitarnya. Kelancaran arus logistik di pelabuhan ini memiliki efek domino langsung terhadap harga barang di pasaran.
Ketika biaya logistik turun, harga pokok produksi industri ikut turun. Dampak akhirnya akan dirasakan konsumen melalui harga barang yang lebih kompetitif. Pelindo Kuala Tanjung berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar implementasi PAB di pelabuhan ini berjalan optimal, memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.