KALIMANTAN SELATAN — Serikat pekerja Hyundai memulai aksi mogok bergilir pada Senin (15/7) dengan memperpendek jam kerja dua jam lebih awal setiap harinya hingga Rabu. Langkah ini diambil setelah perundingan dengan manajemen Hyundai Motor Company gagal mencapai kesepakatan soal upah dan kebijakan ketenagakerjaan jangka panjang.
Dalam negosiasi, serikat pekerja meminta kenaikan gaji pokok, bonus lebih besar, serta skema pembagian keuntungan berdasarkan laba tahunan perusahaan. Mereka menilai pekerja berhak menikmati keuntungan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang justru mengancam posisi mereka.
Namun, tuntutan yang paling krusial adalah agar Hyundai membuka pembahasan khusus sebelum robot mulai diterapkan di lini produksi. Serikat pekerja juga menginginkan jaminan pendapatan bagi pekerja yang terdampak otomatisasi, serta perpanjangan usia pensiun dari 60 tahun menjadi 65 tahun.
Kekhawatiran itu muncul setelah Hyundai mengumumkan rencana menghadirkan robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics ke pabriknya di Amerika Serikat mulai 2028. Pada tahap awal, robot tersebut akan menangani pekerjaan logistik yang berulang, sebelum nantinya membantu proses perakitan kendaraan.
Hyundai bukan satu-satunya pabrikan yang melirik teknologi ini. Tesla, Mercedes-Benz, BMW, Toyota, Mitsubishi, BYD, hingga Chery juga mulai berinvestasi pada robot dan sistem otomatis berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Bagi Hyundai, aksi mogok ini berpotensi mengganggu produksi secara serius. Sekitar separuh kendaraan Hyundai di dunia diproduksi di Korea Selatan, sehingga penghentian produksi meski hanya berlangsung singkat dapat menyebabkan ribuan unit mobil gagal diproduksi dan kerugian bernilai ratusan juta dolar.
Meski begitu, manajemen Hyundai tetap bersikap tegas. Kepala Produksi Domestik Hyundai, Choi Yeong Il, mengatakan aksi mogok sebelumnya hanya menimbulkan kerugian produksi, hilangnya pendapatan pekerja, serta kritik dari pelanggan dan masyarakat. Hyundai juga memastikan tidak akan membayar upah selama pekerja mengikuti aksi mogok.
Saat mogok bergilir berlangsung, serikat pekerja dan manajemen masih melanjutkan perundingan untuk menghindari eskalasi. Jika jalan buntu terus berlanjut, bukan tidak mungkin aksi mogok yang lebih besar dan lebih panjang akan terjadi, mengancam pasokan kendaraan Hyundai ke pasar global termasuk Indonesia.