Spanyol, Prancis, Argentina, dan Inggris: Bayang-Bayang Masa Lalu di Semifinal Piala Dunia

Penulis: Andi Pratama  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 00:34:31 WIB
Spanyol dan Prancis akan saling berhadapan di semifinal Piala Dunia, dengan kenangan kekalahan Spanyol di Euro 1984 dan trauma Prancis di semifinal 1982 membayangi pertandingan.

KALIMANTAN SELATAN — Laga semifinal Piala Dunia memiliki bobot psikologis yang tidak dimiliki pertandingan lain. Kelangkaan partai — Inggris baru memainkan 79 pertandingan final dalam 76 tahun — membuat setiap momen menjadi pusaka nasional yang terus diingat. Seperti yang ditulis Guardian dalam edisi khusus Piala Dunia, "psikologi jauh lebih penting dalam sepak bola Piala Dunia dibandingkan bentuk lain dari olahraga ini." Setiap negara, dengan kata lain, sedang bermain melawan hantu masa lalunya sendiri.

Spanyol vs Prancis: Balas Dendam 1984 dan Trauma Battiston

Spanyol hanya pernah sekali menembus semifinal Piala Dunia — kemenangan 1-0 atas Jerman pada 2010 lewat sundulan Carles Puyol. Namun, satu-satunya final yang mereka kalahkan adalah kepada Prancis, pada Euro 1984. Kekalahan itu diperparah oleh kegagalan Raúl mengeksekusi penalti di perempat final Euro 2000 yang membuat mereka tersingkir dari turnamen yang sama.

Prancis, di sisi lain, masih dihantui malam paling traumatis dalam sejarah sepak bola mereka: semifinal 1982 di Seville. Bek Patrick Battiston dihajar kiper Jerman Barat Toni Schumacher tanpa hukuman, menyebabkan patah rahang, tiga tulang rusuk, dan dua gigi copot. Prancis unggul 3-1 di perpanjangan waktu, tetapi kehabisan napas dan kalah adu penalti. Mereka kalah lagi dari Jerman Barat di semifinal 1986. Tiga kemenangan semifinal beruntun sejak 1998 mungkin meredakan kecemasan, tapi "sifat setan adalah mereka muncul tanpa diundang," tulis Guardian.

Inggris vs Argentina: Rivalitas Oedipal yang Tak Pernah Padam

Sejarah pertemuan Inggris dan Argentina adalah katalog luka: dari gol Bobby Charlton (1962), kartu merah Antonio Rattín (1966), "Hand of God" Maradona (1986), kartu merah David Beckham (1998), hingga jatuhnya Michael Owen di kaki Mauricio Pochettino (2002). Kedua tim tidak bertemu lagi sejak pertandingan persahabatan di Jenewa 2005 — laga sengit yang berakhir dengan dua gol Owen di lima menit akhir setelah Juan Román Riquelme sempat membawa Argentina unggul.

Kini, dua dekade kemudian, ketegangan mungkin sedikit mereda karena banyak pemain Argentina bermain di Premier League. Namun, Guardian mencatat ada "getaran oedipal" setiap kali kedua tim bertemu. Pertemuan pertama mereka pada 1951 dipraview pers Argentina sebagai "murid melawan guru" — kekuatan kolonial yang memberi mereka olahraga. Dinamika murid yang kini sangat mahir masih terasa. Inggris sudah mengubur sebagian trauma "Hand of God" dengan menang di Stadion Azteca pada turnamen ini. Langkah berikutnya: mengalahkan Argentina di laga knockout.

Mengapa Setiap Pertandingan Berbobot Lebih dari Sekadar Skor

Guardian menekankan bahwa kesalahan seperti yang dilakukan kiper Belgia Senne Lammens melawan Spanyol ditonton lebih banyak orang daripada rata-rata pertandingan Manchester United. Tidak ada laga susulan dalam tiga atau empat hari yang bisa membuat kesalahan itu terlupakan. "Kesalahan itu akan selalu menjadi bagian dari ceritanya," tulis Guardian, "bahkan jika kemudian berubah menjadi kisah penebusan dengan penampilan gemilang di Piala Dunia mendatang."

Inilah mengapa usulan Piala Dunia dua tahun sekali — yang kini sudah ditolak — harus dilawan. Lebih sedikit justru lebih bermakna. Setiap semifinal adalah panggung di mana sejarah, trauma, dan ambisi beradu, dan hanya satu tim yang bisa mengusir setannya sendiri.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top