KALIMANTAN SELATAN — Forbes mencatat penurunan kekayaan Musk terjadi akibat aksi jual massal di pasar global yang dipicu kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Spekulasi potensi "gelembung AI" di sektor teknologi juga ikut mendorong investor untuk lebih berhati-hati, menekan performa saham perusahaan teknologi besar.
Spacex menjadi salah satu pemicu utama penurunan ini. Perusahaan antariksa milik Musk baru saja mencatat sejarah lewat penawaran umum perdana (IPO) pada 12 Juni 2026 dengan menghimpun dana 75 miliar dolar AS. Valuasi pasarnya sempat mendekati 3 triliun dolar AS, namun kini dilaporkan menyusut hingga sedikit di atas 2 triliun dolar AS.
Artinya, hampir satu triliun dolar AS nilai pasar perusahaan tersebut menguap dalam waktu singkat. Tekanan serupa juga dialami oleh Alphabet (induk Google) dan produsen chip raksasa asal Korea Selatan, Samsung.
Saham produsen mobil listrik Tesla anjlok hingga 5,8 persen pada awal pekan. Penurunan ini menjadi bagian dari tren negatif yang melanda sektor teknologi secara lebih luas. Sebagian besar aset Elon Musk tersimpan dalam bentuk ekuitas dan saham, sehingga fluktuasi harga pasar secara otomatis berdampak langsung terhadap nilai kekayaannya secara keseluruhan.
Meski kehilangan status triliuner, posisi Musk sebagai orang terkaya di dunia belum tergoyahkan. Ia masih memimpin daftar miliarder global dengan selisih sangat jauh dari para pesaingnya. Pendiri Google, Larry Page, berada di posisi kedua dengan kekayaan sekitar 284 miliar dolar AS, disusul Sergey Brin dan pendiri Amazon, Jeff Bezos.
Menariknya, total kekayaan Musk sejak awal Januari 2026 sebenarnya telah tumbuh sebesar 338 miliar dolar AS. Angka pertumbuhan tahunan ini bahkan masih lebih besar dari total seluruh kekayaan pribadi yang dimiliki Larry Page saat ini.