KALIMANTAN SELATAN — Mazda CX-90 Plug-In Hybrid 2026 akhirnya layak disebut produk jadi, bukan lagi purwarupa yang kebetulan dijual ke publik. Setidaknya itulah kesimpulan dari pengujian langsung yang dilakukan The Drive selama tujuh hari. Pabrikan Hiroshima ini mengakui ada masalah pada sistem plug-in hybrid generasi pertama CX-90 dan telah menerbitkan setidaknya 12 Technical Service Bulletin (TSB) untuk powertrain, lima di antaranya khusus transmisi.
Hasilnya, perpindahan gigi 1-2 dan 2-3 saat mode listrik murni tidak lagi terasa brengsek. Transisi dari tenaga listrik ke hybrid juga tidak lagi diiringi hentakan. Sistem ini kini bisa disebut acceptable, bukan lagi indecisive seperti yang dikeluhkan pemilik sebelumnya.
SUV ini mengandalkan kombinasi mesin 2.5 liter empat silinder bensin dengan motor listrik bertenaga 173 hp dan torsi 199 lb-ft. Total output sistem mencapai 319 hp dan torsi 369 lb-ft pada bahan bakar RON 92 (87 oktan). Jika menggunakan RON 98 (93 oktan), tenaga naik 4 hp—perbedaan yang nyaris tidak terasa.
Motor listrik disuplai baterai 17,8 kWh yang bisa diisi penuh dalam waktu dua jam lebih sedikit menggunakan charger Level 2 (240 volt). Jika menggunakan stopkontak rumah 110 volt, waktu pengisian penuh mencapai 11 jam. Jarak tempuh listrik murni 27 mil (43 km) terbukti akurat bahkan di suhu sekitar 20 derajat Fahrenheit (-6 derajat Celcius). Untuk antar-jemput anak sekolah di pinggiran kota, bensin bisa dihemat sepenuhnya.
Satu keanehan masih tersisa: transmisi otomatis delapan percepatan tetap melakukan perpindahan gigi meski sedang melaju dalam mode listrik murni. Ini adalah keputusan desain yang aneh, namun kini setidaknya perpindahan itu sudah halus.
Interior CX-90 PHEV identik dengan versi bensin. Dasbor penuh tombol fisik, kenop, dan sakelar dengan klik yang memuaskan. Materialnya satu tingkat di atas Honda dan dua tingkat di atas Toyota—ada jok berbahan suede dan linen yang tidak ditemukan di kompetitor Jepang lainnya.
Namun, paket baterai memakan ruang. Kursi baris kedua diatur model stadion (lebih tinggi dari baris depan) dan terasa lebih sempit dibanding Honda Pilot atau Hyundai Palisade. Ruang kaki baris ketiga juga terbatas karena lantai yang dinaikkan. Lebih parah lagi, kursi baris ketiga tidak bisa dilipat rata sempurna—lantai bagasi miring ke arah pintu belakang. Benda bulat seperti bola sepak akan menggelinding ke luar saat pintu dibuka.
Untuk model tahun 2026, Mazda menyematkan kluster instrumen digital 12,3 inci dan layar infotainment 12,3 inci sebagai standar. Varian Preferred kini mendapat jok depan berventilasi dan setir berpemanas. Velg 21 inci juga menjadi standar di semua varian, menghilangkan opsi velg 19 inci dengan sidewall lebih tebal. Infotainment masih menggunakan sistem yang membingungkan: layar sentuh hanya aktif saat Apple CarPlay terhubung; navigasi sistem bawaan hanya bisa dioperasikan lewat kenop putar di konsol tengah.
Harga dasar CX-90 PHEV mulai dari USD 52.025 (sekitar Rp 832 juta) termasuk ongkos kirim. Varian Premium Plus yang diuji banderolnya USD 60.625 (Rp 970 juta) dan sudah termasuk audio Bose, head-up display, lampu depan adaptif, serta pemanas wiper kaca depan. Di kelasnya, CX-90 PHEV adalah satu-satunya SUV tiga baris non-mewah dengan powertrain plug-in hybrid. Volvo XC90 Recharge menawarkan interior lebih mewah dan sistem hybrid lebih halus, tapi harganya jauh lebih tinggi.
Skor akhir dari The Drive: 7,5 dari 10. Desainnya tetap yang paling menarik di segmen ini, dan sistem hybrid kini sudah layak pakai. Tapi model mesin enam segaris turbo tetap terasa lebih halus dan lebih menyenangkan dikendarai.