Pencarian

Lorong Gua Baramban di Tapin Simpan Dunia Lain yang Belum Terjamah Manusia, Peneliti Sebut Potensi Besar

Senin, 22 Juni 2026 • 17:27:01 WIB
Lorong Gua Baramban di Tapin Simpan Dunia Lain yang Belum Terjamah Manusia, Peneliti Sebut Potensi Besar
Tim peneliti menemukan lorong panjang dengan formasi batuan unik di dalam Gua Baramban, Tapin.

TAPIN — Di balik mulut Gua Baramban yang selama ini dikenal warga, ternyata terbentang lorong panjang dengan formasi batuan dan ekosistem yang masih perawan. Tim peneliti yang baru saja menelusuri kawasan itu menyebut lorong tersebut memiliki karakteristik geologis unik yang jarang ditemukan di gua-gua lain di Kalimantan Selatan.

Lorong yang Tak Pernah Terbayangkan Warga

Selama puluhan tahun, warga Desa Baramban hanya mengenal Gua Baramban sebagai tempat berteduh atau lokasi mencari air saat kemarau. Baru belakangan, saat tim eksplorasi masuk lebih dalam, mereka menemukan lorong yang membentang hingga ratusan meter dengan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif tumbuh.

“Ini bukan gua biasa. Struktur batuan di dalamnya menunjukkan proses geologi yang berlangsung ribuan tahun. Kami menemukan beberapa ruang besar yang bisa diakses tanpa alat khusus,” ujar salah satu anggota tim peneliti.

Potensi Wisata dan Riset yang Belum Tergarap

Kepala Desa Baramban mengakui bahwa selama ini potensi gua tersebut belum pernah dipetakan secara resmi. Pihak desa baru mendapat laporan dari warga yang ikut dalam ekspedisi tersebut. “Kami baru tahu ada lorong sebesar itu. Selama ini yang kami lihat hanya bagian depan,” katanya.

Lorong ini dinilai memiliki potensi sebagai destinasi wisata minat khusus dan lokasi riset speleologi. Namun, akses menuju lokasi masih terbatas—jalan setapak sejauh tiga kilometer dari pemukiman terdekat harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Apa Langkah Selanjutnya?

Pemerintah Kecamatan Piani berencana berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tapin untuk melakukan inventarisasi awal. Langkah ini penting sebelum menentukan apakah lorong gua bisa dibuka untuk umum atau justru perlu dilindungi karena kerentanannya terhadap kerusakan.

Tim peneliti mengingatkan bahwa ekosistem di dalam gua sangat sensitif. Sentuhan manusia yang tidak terkontrol bisa merusak formasi batuan yang membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terbentuk. “Jangan sampai potensi ini justru menjadi malapetaka karena eksploitasi tanpa kajian,” tegasnya.

Bagikan
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks