KALIMANTAN SELATAN — Laga Persija Jakarta melawan Java United pada pekan ketiga Super League 2026/2027 dipastikan berlangsung tanpa penonton di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, 19 September 2026. Keputusan ini diambil karena stadion di ibu kota tengah disterilkan menjelang FIFA ASEAN Cup 2026, memaksa Macan Kemayoran menjalani laga kandangnya sebagai musafir.
Persija menyampaikan kepastian itu melalui akun media sosial resmi klub pada Kamis (17/9) siang. Klub meminta seluruh pendukung tidak hadir ke stadion maupun area sekitarnya.
"Laga Persija vs Java United FC pada 19 September 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta resmi digelar tanpa penonton," bunyi pernyataan resmi klub.
"Mohon tidak hadir ke stadion dan sekitarnya. Tetap dukung Macan Kemayoran dari rumah dan doakan Persija kembali membawa tiga poin!" lanjut pernyataan tersebut.
Mengapa Persija Harus Bermarkas di Bali
Persija kehilangan hak bermain di kandang sendiri karena dua stadion utama di Jakarta tidak bisa dipakai. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Jakarta International Stadium (JIS) harus steril seiring padatnya agenda di kedua venue tersebut.
SUGBK khususnya tidak dapat digunakan karena seluruh agenda di sana wajib dikosongkan menjelang FIFA ASEAN Cup 2026. Alhasil, Stadion Kapten I Wayan Dipta milik Bali United menjadi pilihan sebagai kandang sementara.
Regulasi FIFA di Balik Sterilisasi SUGBK
Sekjen PSSI Yunus Nusi menegaskan ada aturan FIFA yang melarang penggunaan arena pertandingan tepat satu pekan sebelum laga dimulai. Prosedur itu dijalankan demi menjaga kondisi lapangan tetap prima.
"Kalau tanggal 19 itu sudah H-7 FIFA ASEAN Cup. Sudah larangan secara ofisial," kata Yunus di Jakarta pada Kamis (10/9) lalu.
Dengan demikian, laga 19 September 2026 sudah masuk hitungan pekan kritis yang tidak boleh dipakai untuk kepentingan lain. Jadwal Super League pun harus menyesuaikan diri.
Dampak bagi Persija dan Suporter
Bermain tanpa penonton menghapus keuntungan atmosfer kandang yang biasanya jadi kekuatan Persija. Dukungan Jakmania hanya bisa disalurkan dari jauh, sementara tim tetap dituntut meraih tiga poin penuh.
Status musafir juga menambah beban perjalanan Macan Kemayoran di awal musim. Mereka harus beradaptasi dengan lapangan dan iklim Bali, sesuatu yang tidak ideal di pekan ketiga kompetisi.
Klub menegaskan larangan hadir berlaku tidak hanya di dalam stadion, tetapi juga di kawasan sekitarnya. Langkah ini diambil untuk menghindari kerumunan yang berpotensi melanggar aturan penyelenggaraan.