PT Adaro Indonesia bersama Amanah Bangun Negeri Foundation (YABN) memperkuat kapasitas 17 personel teknis gizi untuk percepatan penurunan stunting di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Barito Kuala (Batola), dan Barito Timur (Bartim). Pelatihan berlangsung pada Rabu (16/9/2026) dengan fokus pengukuran antropometri standar dan edukasi pola makan keluarga. Usai pelatihan, para kader akan mendampingi 66 balita selama periode intervensi.
TANJUNG — Pelatihan itu diikuti 14 kader dan 3 fasilitator yang berasal dari tiga kabupaten lintas provinsi. Rinciannya, 6 kader dan 1 fasilitator dari HSU mendampingi 28 balita, 4 kader dan 1 fasilitator dari Batola mendampingi 19 balita, serta 4 kader dan 1 fasilitator dari Bartim mendampingi 19 balita.
Section 2 Head YABN Rody Ermawan menyatakan pelatihan ini membekali kader dalam pelaksanaan intervensi gizi, khususnya pengukuran dan edukasi keluarga.
"Para kader tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga perlengkapan yang lebih kuat untuk memberikan pendampingan kepada balita," kata Rody, Rabu (16/9/2026).
Materi Pelatihan: Dari Antropometri hingga Komunikasi Pendampingan
Selama pelatihan, peserta menerima instruksi dan praktik langsung yang mencakup gizi bayi dan balita, praktik pemberian makan anak, pengukuran antropometri standar, skema pelaksanaan intervensi gizi, serta komunikasi efektif dalam mendampingi penerima manfaat.
Kemampuan melakukan pengukuran antropometri secara standar dinilai krusial agar kader memperoleh data pertumbuhan dan status gizi balita dengan tepat. Kader juga dibekali keterampilan komunikasi untuk mendukung edukasi kepada keluarga soal pemberian makan dan pengasuhan anak.
Bagaimana Pelatihan Ini Menjangkau Tiga Kabupaten Sekaligus?
Penguatan kapasitas digelar agar kader memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendampingi balita selama intervensi gizi. Kegiatan ini bagian dari program penguatan integrasi layanan kesehatan primer untuk percepatan penurunan stunting pada 2026.
Dukungan PT Adaro Indonesia dan YABN melalui penguatan kapasitas kader diyakini dapat meningkatkan gizi anak dan mempercepat penurunan stunting di HSU, Batola, dan Bartim.
Setelah pelatihan, kader dan fasilitator akan menerapkan pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh untuk mendukung 66 balita di ketiga kabupaten selama periode intervensi.