BANJARBARU — Antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi persoalan tersendiri bagi relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru. Saat armada harus ikut mengantre seperti kendaraan umum, waktu menuju titik api ikut terbuang.
Kondisi itu menjadi perhatian Banjarbaru Rescue (Bares) 698, yang menaungi tim gabungan relawan dari Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), Pemadam Kebakaran (PMK), dan Emergency. Mereka mendorong adanya skema prioritas pengisian BBM bagi armada yang sedang bertugas.
Pertemuan dengan Pertamina Belum Hasilkan Kebijakan Prioritas
Ketua Bares 698, Kemas A Rudi Indrajaya, menyebut persoalan ini sudah disampaikan kepada Pertamina dalam pertemuan pada 4 September 2026. Namun penerapan kebijakan prioritas belum bisa dilakukan karena harus mengikuti regulasi dan SOP yang berlaku.
"Sebelumnya tanggal 4 September 2026 kemarin kami sudah bertemu dengan pihak Pertamina, tetapi masih terbentur dengan regulasi mereka. Ada SOP yang ditentukan oleh mereka. Kami meminta prioritas pengisian BBM saja, kita beli bukan minta," ujarnya, Ahad (13/9/2026).
Yang Diminta Relawan: Mekanisme Jelas di Tiap SPBU
Menurut Rudi, relawan tidak meminta pembebasan biaya maupun fasilitas khusus. Yang dibutuhkan adalah kemudahan agar kendaraan operasional bisa segera bergerak kembali setelah mengisi bahan bakar.
Ia berharap ada mekanisme yang diterapkan secara jelas di SPBU. Dengan begitu, petugas di lapangan mengetahui kendaraan mana yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan dan butuh pelayanan prioritas.
"Harapan kami pihak Pertamina bisa membuatkan pengumuman untuk mempermudah dan mempercepat penanganan Karhutla di setiap SPBU di Kota Banjarbaru," katanya.
Pertamina Diminta Tiru Kebijakan di Kabupaten Banjar
Rudi menyebut Pertamina masih memerlukan koordinasi lebih lanjut untuk menindaklanjuti permintaan tersebut. Karena itu, ia berharap pembahasan tidak berhenti pada persoalan prosedur.
Relawan ingin solusi yang tetap berada dalam koridor aturan sekaligus menjawab kebutuhan darurat di lapangan. Ia juga mengapresiasi langkah Pertamina di Kabupaten Banjar yang telah memberikan dukungan BBM bebas antre bagi relawan karhutla.
"Kami salut dengan Pertamina Kabupaten Banjar yang mendukung BBM bebas antre untuk relawan karhutla. Kami berharap pihak Pertamina bisa peka untuk mengerti kondisi para relawan di Banjarbaru. Kami beli BBM untuk kemanusiaan, bukan untuk melangsir," tegasnya.
Bagi relawan, kebijakan di Kabupaten Banjar menunjukkan kebutuhan operasional bisa diberi ruang sepanjang mekanismenya jelas. Kini bola ada di tangan Pertamina untuk menerapkan hal serupa di SPBU Kota Banjarbaru.