Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat 28 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.695 per dolar AS pada perdagangan Rabu. Penguatan ini ditopang penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan damai di Timur Tengah. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.
JAKARTA — Pasar mata uang Asia dibuka dengan nada positif pada perdagangan Rabu setelah harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini mendorong penguatan rupiah yang sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir akibat eskalasi konflik geopolitik.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah dibuka menguat 28 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.695 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.723 per dolar AS.
Harapan Damai di Selat Hormuz Meredakan Tekanan Harga Minyak
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, penguatan rupiah terutama dipicu oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Sentimen positif datang dari laporan bahwa Iran dan Oman tengah membahas pembentukan "koridor maritim gabungan sementara" di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi dan Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi dikabarkan membahas upaya memulihkan kebebasan navigasi melalui jalur perairan strategis tersebut. Keduanya menekankan perlunya melanjutkan pembicaraan untuk mencapai kesepahaman praktis yang dapat memfasilitasi kelancaran arus pelayaran.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan 'koridor maritim gabungan sementara' di Selat Hormuz," kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Harga Brent dan WTI Anjlok ke Level Terendah
Dinamika geopolitik yang mereda langsung tercermin pada harga komoditas energi. Harga minyak mentah Brent anjlok ke kisaran 86,2 dolar AS per barel, melanjutkan penurunan 2,4 persen pada sesi sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga turun 5,5 persen menjadi 80,40 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak ini menjadi angin segar bagi negara importir seperti Indonesia, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya impor energi. Dampaknya langsung terasa pada penguatan nilai tukar mata uang Garuda.
Tidak Ada Sentimen Domestik Signifikan, Investor Waspadai Aksi Demo
Dari dalam negeri, Lukman menilai tidak ada sentimen signifikan yang mempengaruhi pergerakan kurs rupiah pada hari ini. Namun, para pelaku pasar tetap waspada dan mencermati rencana aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung Kamis (27/8).
Kekhawatiran akan potensi gangguan keamanan dan ketertiban kerap menjadi pertimbangan investor asing dalam menahan diri melakukan transaksi di pasar keuangan Indonesia. Meski demikian, proyeksi pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan berada di zona aman dengan rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.