BANJARMASIN — Retakan membelah badan Jalan Martapura Lama dengan celah selebar 10 hingga 15 sentimeter di beberapa titik. Aspal turun drastis, dan di sisi yang berbatasan langsung dengan sungai, sejumlah kios kayu mulai miring akibat pergeseran tanah. Kondisi itu pertama kali dilaporkan warga saat jam sibuk pagi, menyebabkan antrean kendaraan mengular dari dua arah.
Erosi Tepi Sungai Diduga Jadi Biang Kerok
Kepala Dinas PUPR Kalsel, M. Yasin Toyib, mengatakan hasil pengamatan awal menunjukkan kerusakan dipicu berkurangnya daya dukung badan jalan. “Terjadi penurunan badan jalan yang ditandai retakan memanjang pada perkerasan. Kerusakan berada di sisi jalan yang berbatasan langsung dengan sungai sehingga diduga dipengaruhi erosi tepi sungai yang mengurangi dukungan terhadap badan jalan,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Bukan Sekadar Tambal Aspal, Ini Rencana PUPR
Yasin menegaskan, penanganan permanen tidak bisa dilakukan tergesa-gesa. Selain berada di kawasan permukiman padat, volume kendaraan di ruas ini sangat tinggi sehingga ruang kerja terbatas. Selama ini perbaikan hanya bersifat sementara melalui pelapisan ulang (overlay) dan perbaikan lapis pondasi agregat. Karena penyebab utama belum ditangani, kerusakan berpotensi kembali terjadi.
Sebagai langkah awal, petugas kepolisian bersama relawan mengatur lalu lintas dengan sistem buka-tutup jalur. PUPR Kalsel juga memasang rambu peringatan, traffic cone, dan barrier. Jika retakan terus berkembang, pembatasan kendaraan berat hingga penutupan sebagian lajur akan diterapkan.
Investigasi Teknis: Test Pit hingga Core Drill
Tim teknis PUPR segera melakukan survei kondisi retakan, pengujian struktur perkerasan menggunakan test pit, core drill, dan Dynamic Cone Penetrometer (DCP). Penyelidikan kondisi tanah juga akan dilakukan jika diperlukan. Hasil investigasi ini akan menjadi dasar penyusunan metode penanganan permanen.
“Rencana penanganan permanen sebenarnya sudah dipertimbangkan sejak awal. Namun pelaksanaannya terkendala keterbatasan ruang kerja, padatnya permukiman di bantaran sungai, serta tingginya volume lalu lintas. Karena itu diperlukan kajian teknis yang lebih komprehensif,” pungkas Yasin.
Opsi Pile Slab dan Dinding Penahan Tanah Disiapkan
PUPR Kalsel mempertimbangkan penggunaan sistem pile slab maupun pembangunan dinding penahan tanah (DPT) atau struktur pengaman tepi sungai. Pemantauan berkala terhadap perkembangan retakan, penurunan badan jalan, serta kondisi struktur pengaman sungai dan sistem drainase akan dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan efektif.