KALIMANTAN SELATAN — Lonjakan penjualan kendaraan listrik di Indonesia dari ratusan unit pada 2021 menjadi sekitar 103 ribu unit pada 2025 memang mengesankan. Namun, data Gaikindo yang dihimpun KompasPedia (2026) itu hanya bercerita tentang jumlah unit terjual, bukan tentang seberapa bersih energi yang dipakai untuk mengisi dayanya. Faktanya, bauran energi nasional pada 2024 masih didominasi batu bara (40,46 persen), sementara energi baru terbarukan baru mencapai 13,09 persen, menurut data Dewan Energi Nasional yang dipublikasikan Kementerian ESDM.
Baterai Hijau yang Lahir dari Pembangkit Batu Bara
Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar dan diposisikan sebagai modal utama rantai pasok baterai global. Namun, pengolahan nikel menjadi material baterai membutuhkan energi yang sangat besar dan masih bergantung pada batu bara. Akibatnya, baterai yang dipromosikan sebagai solusi hijau justru menyimpan jejak karbon tinggi sejak tahap awal produksi.
Kementerian ESDM mencatat produksi batu bara Indonesia pada 2023 mencapai 775 juta ton, melampaui target 695 juta ton. Angka ini menunjukkan bahwa di satu sisi pemerintah mendorong kendaraan listrik, di sisi lain produksi batu bara tetap tinggi. Situasi ini memperlihatkan transisi kendaraan berlangsung lebih cepat daripada transisi energinya.
Mengapa Kebijakan Lebih Fokus pada Angka Penjualan?
Menurut analisis yang dimuat BandungBergerak.id, greenwashing dalam kebijakan publik sering hadir ketika pemerintah terlalu menonjolkan satu sisi keberhasilan—misalnya jumlah kendaraan listrik yang terjual—tetapi mengabaikan struktur energi yang menopangnya. Angka penjualan lebih mudah dihitung, lebih cepat diumumkan, dan lebih baik dijadikan bukti keberhasilan dibandingkan membangun energi terbarukan yang membutuhkan waktu panjang dan biaya besar.
Kondisi Indonesia jelas berbeda dengan Norwegia atau Islandia yang sebagian besar listriknya berasal dari energi terbarukan. Kendaraan listrik mungkin sama-sama digunakan, tetapi sistem energi yang menopangnya tidak sama. Perbedaan ini penting karena memengaruhi dampak lingkungan yang dihasilkan.
Transisi Teknologi Tanpa Transformasi Sistem
Permasalahannya bukan pada kendaraan listrik semata, melainkan pada sistem yang menopangnya. Sebuah teknologi hanya akan membawa perubahan jika sistem di sekitarnya ikut berubah. Dalam kasus Indonesia, pengurangan emisi di jalan belum tentu diikuti pengurangan emisi di sepanjang rantai produksinya.
Sebagian emisi tidak lagi muncul pada kendaraan, tetapi berpindah ke proses produksi energi dan bahan bakunya. Perubahan yang terlihat sejauh ini lebih banyak terjadi pada teknologinya, sementara sistem yang menopangnya belum banyak berubah. Transisi energi sejati bukan hanya mengganti jenis kendaraan, tapi juga mengubah sumber listriknya, cara industri bekerja, dan cara pemerintah menilai kemajuan.