KALIMANTAN SELATAN — Keputusan ini diumumkan langsung oleh Dony Oskaria yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara di Jakarta, Kamis (24/4/2025). Menurutnya, likuidasi itu merupakan bagian dari strategi induk usaha BUMN telekomunikasi tersebut untuk memfokuskan sumber daya pada lini bisnis utama.
Bukan Efisiensi Biasa, Ini Restrukturisasi Fundamental
Dony menjelaskan, dari total puluhan entitas anak yang saat ini dimiliki Telkom, belasan di antaranya dinilai tidak lagi memiliki kontribusi signifikan terhadap pendapatan konsolidasi. Alih-alih terus membiayai operasional yang tidak produktif, manajemen memilih untuk menutupnya secara resmi.
"Yang dilakukan Telkom adalah penutupan 12 sampai 14 anak usaha. Ini bukan efisiensi biasa, ini restrukturisasi fundamental. Tidak ada PHK dalam proses ini," ujar Dony dalam konferensi pers.
Nasib Karyawan: Dialihkan, Bukan Dipecat
Pernyataan Dony sekaligus meredam kekhawatiran publik mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja di tubuh BUMN telekomunikasi pelat merah itu. Ia memastikan seluruh karyawan dari anak usaha yang ditutup akan dialihkan ke perusahaan induk atau entitas lain yang masih beroperasi.
"Karyawan tidak akan kehilangan pekerjaan. Mereka akan direlokasi. Ini soal penataan portofolio, bukan soal pengurangan tenaga kerja," tegasnya.
Hingga saat ini, manajemen Telkom belum merilis daftar spesifik anak perusahaan yang akan dilikuidasi. Namun, langkah ini dinilai sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendorong BUMN lebih fokus pada core bisnis dan meningkatkan nilai aset negara.
Danantara Awasi Langsung Proses Transisi
Sebagai induk dari holding BUMN, Danantara akan mengawal proses transisi ini. Dony menambahkan, likuidasi tersebut diharapkan rampung dalam waktu dekat dan tidak mengganggu layanan publik yang selama ini diberikan Telkom kepada masyarakat.
Keputusan ini juga menjadi sinyal keras bagi anak usaha BUMN lain untuk segera membuktikan kontribusi bisnisnya. Jika tidak, nasib serupa bisa menanti mereka di masa depan.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi besar BUMN di bawah komando Danantara yang menargetkan peningkatan efisiensi operasional secara agresif tanpa harus mengorbankan hak pekerja.