BANJARMASIN — Poltekkes Kemenkes Banjarmasin menggelar edukasi kesehatan bagi warga Telok Selong Ulu dengan fokus pada pencegahan stroke dan perawatan pasien berbasis keluarga. Kegiatan ini menyasar warga yang tinggal di kawasan padat penduduk tepian Sungai Martapura, wilayah yang rawan dengan gaya hidup tidak aktif dan konsumsi makanan tinggi garam.
Mengapa Stroke Jadi Ancaman Serius di Wilayah Ini?
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalsel, stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Banjarmasin. Pola makan masyarakat yang cenderung tinggi kolesterol dan minim aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama. Lewat program ini, Poltekkes ingin membangun kesadaran sejak dari unit terkecil: keluarga.
Apa Saja yang Diajarkan ke Warga?
Materi pelatihan mencakup pengenalan gejala awal stroke—seperti senyum tidak simetris, gerak separuh tubuh melemah, dan bicara pelo—hingga teknik perawatan dasar bagi pasien pasca-stroke di rumah. Warga juga diajarkan cara memodifikasi lingkungan rumah agar aman bagi pasien stroke, seperti memasang pegangan di kamar mandi dan menghilangkan penghalang di lorong.
Peran Keluarga Jadi Kunci Pemulihan
Pendekatan berbasis keluarga dipilih karena mayoritas pasien stroke di Indonesia menjalani perawatan jangka panjang di rumah setelah keluar dari rumah sakit. Tanpa pengetahuan yang cukup, keluarga kerap kesulitan menangani komplikasi seperti luka tekan atau infeksi saluran kemih. Poltekkes menekankan bahwa perawatan yang benar di rumah bisa mempercepat pemulihan dan menekan biaya pengobatan.
Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin. Mereka turun langsung ke RT-RT di Telok Selong Ulu untuk memberikan simulasi dan pendampingan. Warga yang mengikuti pelatihan juga mendapat buku saku berisi panduan sederhana merawat pasien stroke.
Langkah Selanjutnya: Pembentukan Kader Kesehatan
Poltekkes berencana membentuk kader kesehatan di setiap RT di Telok Selong Ulu sebagai perpanjangan tangan tenaga medis. Kader ini nantinya akan memantau warga berisiko tinggi dan menjadi rujukan pertama jika ada gejala stroke muncul. Program serupa direncanakan menyasar kelurahan lain di Banjarmasin secara bertahap.