RANTAU — Kepala Dinas Perdagangan Tapin, Walaidi Rakhmat, menyatakan pemantauan pasar dilakukan rutin untuk mendeteksi potensi lonjakan permintaan maupun gangguan pasokan. Menurutnya, momentum akhir tahun selalu membawa risiko kenaikan kebutuhan masyarakat yang harus diantisipasi lebih awal.
Berdasarkan pemantauan dinas, harga gula curah kini berada di kisaran Rp18.500 per kilogram. Angka itu turun dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh Rp19.000 per kilogram.
Gula kemasan juga mencatat penurunan serupa. Dari sekitar Rp22.000 per kilogram, harga di pasaran kini bergerak di kisaran Rp21.000 per kilogram.
Meski trennya menurun, Walaidi menegaskan kedua jenis gula tersebut belum kembali sesuai acuan pemerintah. Dinas Perdagangan terus mencermati pergerakan angka itu dari hari ke hari.
"Perkembangan harga sejumlah komoditas tetap menjadi perhatian kami, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru. Pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga," ujarnya, Minggu (1/11/2026).
Komoditas lain yang dipantau adalah daging ayam ras. Setelah sempat naik dari Rp37.000 menjadi Rp40.000 per kilogram, harga kini mulai turun ke Rp39.000 per kilogram.
Walaidi menjelaskan, naik turunnya harga bahan pokok dipengaruhi sejumlah faktor. Ketersediaan pasokan dari daerah penghasil, harga pembelian di tingkat distributor, serta kelancaran distribusi hingga ke pasar menjadi penentu utama.
Karena itu, penurunan harga yang terjadi belum membuat pemerintah daerah mengendurkan pengawasan. Pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok terus dilakukan untuk mendeteksi potensi kenaikan maupun gangguan pasokan.
Menghadapi Natal dan Tahun Baru, Dinas Perdagangan Tapin memperkuat koordinasi dengan instansi terkait. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi lonjakan permintaan sekaligus menjaga ketersediaan bahan pokok di pasaran.
Warga diimbau tidak melakukan panic buying. Pembelian berlebihan justru berpotensi mendorong harga naik di tengah pasokan yang belum sepenuhnya stabil.