KALIMANTAN SELATAN — Good Doctor Technology Indonesia memakai kecerdasan buatan untuk merangkum keluhan pasien dan memberi rekomendasi awal bagi dokter, sementara keputusan medis tetap di tangan tenaga kesehatan. Layanan telemedicine ini menyediakan konsultasi on demand dengan dokter umum dan spesialis dari 26 spesialisasi melalui aplikasi. CEO Danu Wicaksana menilai AI berperan sebagai mitra kerja, bukan pengganti manusia.
Perusahaan telemedicine Good Doctor menempatkan AI sebagai alat bantu di balik layar konsultasi. Teknologi tersebut mengumpulkan informasi awal pasien, merangkum keluhan, lalu menyodorkan rekomendasi kepada dokter yang menangani.
Keputusan akhir layanan medis tetap berada di tangan dokter. Good Doctor tidak memposisikan AI sebagai pengganti tenaga kesehatan, melainkan sebagai pendukung agar proses pelayanan lebih efisien.
Layanan Good Doctor bersifat on demand. Pengguna bisa langsung berkonsultasi lewat aplikasi tanpa perlu membuat janji temu lebih dulu.
Dokter yang tersedia mencakup dokter umum dan dokter spesialis dari 26 spesialisasi. Model ini menyasar masyarakat yang butuh akses cepat ke layanan kesehatan tanpa harus datang ke fasilitas fisik.
Danu Wicaksana menyebut ada dua area yang perlu digarap serius: layanan preventif dan pengelolaan penyakit kronis. Pemanfaatan teknologi untuk pencegahan penyakit di Indonesia dinilai belum optimal.
Aplikasi bisa dipakai mendorong masyarakat lebih aktif bergerak, misalnya lewat target langkah harian dan pemberian insentif. Untuk deteksi dini, teknologi dapat membantu pemeriksaan penyakit seperti diabetes dengan cara yang mudah dan terjangkau.
"Pemeriksaan yang mudah dan terjangkau dapat dilakukan di kampus atau kantor sehingga masyarakat lebih mudah mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang lebih jauh," ujar Danu dalam wawancara bersama kru identitas Unhas, Kamis (13/8).
Pasien diabetes atau hipertensi kerap lupa mengonsumsi obat sehingga kondisi memburuk. Pengingat sederhana melalui aplikasi dapat membantu mereka minum obat tepat waktu.
Urgensi layanan preventif ikut didorong perubahan demografi. Jumlah kelompok sandwich generation, yaitu mereka yang menanggung kebutuhan anak sekaligus orang tua, diperkirakan meningkat. Kelompok ini perlu tetap sehat dan produktif.
Danu mengingatkan mahasiswa yang ingin membangun inovasi kesehatan agar tidak berhenti pada konsep. Gagasan perlu diuji lewat proof of concept untuk mengetahui kelayakannya.
Pendanaan awal bisa datang dari investasi atau hibah kampus, pemerintah, maupun pihak swasta. Satu hal yang sering luput: pengguna produk belum tentu pihak yang membayar layanan.
Pengalaman Good Doctor menunjukkan perusahaan dan asuransi dapat menjadi pembayar ketika tidak semua pengguna bersedia membayar konsultasi dengan uang sendiri.
Bagi mahasiswa kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, dan bidang terkait, kemampuan menerapkan AI menjadi bekal penting. Teknologi ini diposisikan sebagai mitra yang membuat pekerjaan lebih efisien.
Jurusan bukan satu-satunya penentu karier. Mahasiswa perlu tahu cara memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, termasuk menyelesaikan pekerjaan yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu.
Danu melihat peluang inovasi anak muda Indonesia di bidang teknologi kesehatan sangat luas dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Salah satu area yang disebut adalah teknologi genomik.
Lewat sampel darah, teknologi ini dapat menganalisis susunan gen seseorang untuk memberi gambaran risiko penyakit tertentu dan rekomendasi terkait kondisi genetiknya. Mahasiswa Indonesia berpotensi mengembangkan inovasi serupa dengan mempelajari berbagai referensi ilmiah.
Teknologi modifikasi gen juga masih terus dikembangkan dan diuji di berbagai negara. Danu berharap inovasi kesehatan terus berkembang hingga menghadirkan pengobatan bagi penyakit yang sulit disembuhkan, termasuk kanker.