KALIMANTAN SELATAN — Penjualan mobil listrik murni di Uni Eropa mencapai 710.580 unit pada kuartal III 2026, melampaui gabungan mobil bensin dan diesel yang hanya 655.540 unit. Capaian ini menandai pertama kalinya kendaraan listrik menjadi pilihan dominan di pasar otomotif terbesar dunia tersebut. Sebanyak 13 dari 27 negara anggota Uni Eropa mencatat rekor penjualan mobil listrik tertinggi mereka.
Data dari Transport & Environment (T&E), lembaga riset dan advokasi iklim asal Eropa, menunjukkan pergeseran struktural dalam komposisi penjualan kendaraan di Benua Biru. Angka kuartal III 2026 mempertegas tren yang sudah terlihat pada kuartal sebelumnya, ketika mobil listrik murni mulai menyalip penjualan mobil bensin murni.
Rincian pembelian pada periode tersebut mencakup sekitar 492.930 unit mobil bensin murni dan 162.610 unit diesel, atau total 655.540 unit kendaraan bermesin pembakaran internal. Sementara itu, kendaraan listrik murni terjual 710.580 unit.
Pertumbuhan penjualan mobil listrik tidak hanya terjadi di segelintir negara. T&E mencatat 13 dari 27 negara anggota Uni Eropa membukukan penjualan mobil listrik tertinggi sepanjang sejarah mereka. Di 10 negara, kendaraan listrik murni menjadi jenis powertrain terlaris.
Norwegia tetap memimpin dengan pangsa pasar mobil listrik mencapai 97,9 persen. Angka itu didorong kebijakan pajak dan insentif yang memudahkan pembelian kendaraan listrik. Swedia dan Belanda mengikuti tren serupa dengan pangsa pasar tinggi.
Prancis, Jerman, Belgia, Inggris, Portugal, dan Irlandia kini mencatat pangsa pasar mobil listrik baru di atas 25 persen. Kroasia masih tertinggal dengan pangsa hanya 4,2 persen, tetapi penjualan mobil listrik di negara itu naik 244 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara mobil bermesin pembakaran turun 19 persen.
Deretan merek Tiongkok seperti Leapmotor, Geely, dan BYD masuk ke pasar Eropa dengan model berharga kompetitif, termasuk Leapmotor B10 dan BYD Dolphin Surf. Pabrikan non-Tiongkok juga merespons dengan meluncurkan hatchback dan crossover listrik yang lebih terjangkau, di antaranya Renault, Stellantis, Hyundai, Kia, dan Volkswagen.
Berbeda dengan Amerika Serikat yang masih bergulat dengan erosi subsidi dan minimnya pilihan model murah, Eropa memiliki variasi kendaraan listrik yang jauh lebih luas. Faktor inilah yang membuat adopsi kendaraan listrik di Eropa terus menanjak.
Kendaraan hybrid masih menjadi powertrain terlaris di Eropa dengan penjualan 892.380 unit pada kuartal III 2026. Selisihnya dengan mobil listrik murni kini hanya sekitar 180.000 unit.
Dengan tren kenaikan yang konsisten, selisih itu berpotensi tertutup dalam waktu dekat. Sejumlah model listrik murah seperti Citroën 2CV versi baru dan Dacia Spring yang sedang disiapkan pabrikan akan menambah tekanan terhadap segmen hybrid.
Bagi konsumen Indonesia, dinamika pasar Eropa ini memberi gambaran soal arah industri global. Merek-merek yang kini agresif di Eropa, terutama produsen Tiongkok, juga tengah memperluas penetrasi di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.