IHSG Anjlok 2,16% ke 5.863, Saham Perbankan Big Cap Bertahan di Zona Hijau

Penulis: Eko Saputro  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:55:31 WIB
IHSG ditutup melemah 2,16% ke level 5.863 pada perdagangan Kamis (15/10/2026).

KALIMANTAN SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 2,16% atau 128,3 poin ke level 5.863 pada perdagangan Kamis (15/10/2026), menandai titik terendah baru dalam tiga bulan terakhir. Tekanan jual masif dipicu kekhawatiran pasar atas inflasi September yang di atas ekspektasi, memicu spekulasi The Fed menaikkan suku bunga acuan. Di tengah koreksi, mayoritas saham perbankan berkapitalisasi besar justru bertahan di zona hijau.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG sempat menyentuh level 5.814,72 pada sesi pertama, turun 2,16% atau minus 128,3 poin. Posisi itu menjadi rekor terendah baru dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memperkuat sentimen negatif, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur valuta asing.

Kepanikan pasar domestik direspons investor asing dengan mencatatkan net sell Rp182,94 miliar, setara pelepasan 645,42 juta lembar saham. Nilai total transaksi hari itu mencapai Rp8,58 triliun, termasuk Rp2,44 triliun di pasar negosiasi, dengan frekuensi 1,10 juta kali dan volume 22,4 miliar lembar saham.

Hanya 80 Saham Menguat, Energi Paling Terpukul

Tekanan jual yang masif membuat lebih dari 620 saham rontok berjamaah. Hanya sekitar 80 saham yang mampu menguat dan 89 lainnya stagnan. Seluruh indeks sektoral ikut terseret, dengan sektor energi amblas paling dalam hingga 3,71%.

Dua emiten tambang dan energi menjadi beban terberat IHSG. Saham PT Bumi Resources Materials Tbk (BRMS) terjun 8,11% dan menekan indeks sebesar 7,54 poin, disusul PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang turun 3,54%.

Sebaliknya, PT Bank India Indonesia Tbk (BSWD) terbang 25% dan PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 0,8%. Keduanya sedikit menahan IHSG agar tidak jatuh lebih dalam.

Bank Besar Tetap Diburu Meski BBCA Koreksi

Saham bank milik negara (Himbara) kompak menampilkan kinerja positif di tengah badai penurunan indeks. Fundamental bank-bank besar tetap menjadi incaran investor meski BBCA mengalami koreksi tipis.

Saham BBCA ditutup turun 0,82% sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Pelemahan itu dipicu inflasi September yang berada di atas ekspektasi, sehingga mendorong kekhawatiran The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Meski begitu, BBCA justru memimpin daftar saham yang paling banyak diborong asing. Berikut rincian top 5 net foreign buy dan net foreign sell pada perdagangan hari ini:

  • BBCA – Rp104,89 miliar (net buy)
  • DSSA – Rp47,74 miliar (net buy)
  • BBRI – Rp43,37 miliar (net buy)
  • ACES – Rp14,19 miliar (net buy)
  • PWON – Rp13,45 miliar (net buy)
  • TLKM – Rp34,93 miliar (net sell)
  • GOTO – Rp25,86 miliar (net sell)
  • ADRO – Rp18,11 miliar (net sell)
  • BRPT – Rp16,16 miliar (net sell)
  • AADI – Rp14,57 miliar (net sell)

Dua Sektor Jadi Buruan, Tiga Sektor Dilepas

Pola net buy asing terkonsentrasi di sektor keuangan dan properti. BBCA, BBRI, dan PWON masuk daftar beli, sementara DSSA dari sektor energi dan ACES dari ritel melengkapi lima besar.

Di sisi jual, asing melepas saham telekomunikasi dan energi. TLKM memimpin net sell Rp34,93 miliar, disusul GOTO, ADRO, BRPT, dan AADI. Aksi lepas di sektor energi sejalan dengan amblesnya indeks sektoral energi 3,71%.

Rupiah dan The Fed Jadi Kunci Sesi Berikutnya

Pergerakan IHSG ke depan sangat bergantung pada arah nilai tukar rupiah dan sinyal kebijakan The Fed. Inflasi September yang tinggi membuat pasar kembali berspekulasi soal kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Bagi investor, kondisi ini menuntut sikap wait and see sebelum menambah muatan. Saham perbankan big cap tetap menjadi pilihan utama karena fundamentalnya dinilai lebih tahan terhadap tekanan eksternal dibanding sektor energi dan komoditas.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: merahputih.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top