Cara Mengajarkan Anak Laki-laki Menghargai Batasan Tubuh Sejak Kecil

Penulis: Eko Saputro  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:21:31 WIB
Ilustrasi anak laki-laki bermain bersama teman seusianya.

KALIMANTAN SELATAN — Pendidikan soal batasan tubuh dan persetujuan sering hanya ditujukan ke anak perempuan, padahal anak laki-laki juga membutuhkannya sejak dini. Berikut cara mengajarkannya sesuai usia, mulai balita hingga usia sekolah, menurut para pakar.

Banyak orang tua baru mulai membicarakan soal persetujuan saat anak menginjak remaja. Padahal, fondasi menghargai batasan tubuh justru dibangun dari kebiasaan kecil sehari-hari, jauh sebelum anak bisa memahami istilah "persetujuan" itu sendiri.

Psikolog klinis berlisensi di Stramski Children's Development Center, Miller Children's & Women's Hospital, Ioana Pal, PsyD, menegaskan anak laki-laki berhak mendapat percakapan yang sama bijaknya soal menghormati orang lain dan melindungi batasan diri sendiri.

Mengapa Anak Laki-laki Perlu Diajari Sejak Dini

Menurut Pal, pelajaran soal rasa hormat paling bermakna ketika tumbuh dari kehidupan keluarga sehari-hari. Ketika orang tua menormalisasi rasa hormat di semua tahap perkembangan, mereka sedang meletakkan dasar pengambilan keputusan yang lebih baik di masa depan.

Ada dua pesan yang ingin Pal sampaikan ke anak laki-laki: batasan yang dimilikinya penting, dan batasan orang lain sama pentingnya.

"Menjadi laki-laki tidak selalu berarti menginginkan kasih sayang atau perhatian seksual, dan bersikap baik tidak berarti menerima sentuhan yang tidak diinginkan," ujarnya, dilansir Parents.

Kapan Waktu Terbaik Memulainya

VP of Growth and Prevention di Childhelp, Stacy Vaughan, DSW, LMSW, mengatakan percakapan soal batasan tubuh bisa dimulai begitu anak mulai bisa berkomunikasi. Pelajaran awal bukan tentang seks, melainkan soal mencontohkan rasa hormat terhadap tubuh, ruang pribadi, dan pilihan.

Contohnya, membantu anak belajar meminta izin sebelum memeluk teman, berhenti saat seseorang mengatakan "berhenti", dan menunjukkan bahwa kata-kata mereka didengar.

Psikoterapis trauma Doriel Jacov, JD, LCSW, menyarankan orang tua tidak menunggu anak menjadi remaja. Jika persetujuan diajarkan sejak kecil, anak akan lebih mampu memahaminya dalam konteks aktivitas seksual saat besar nanti.

1. Balita dan Anak Prasekolah (Usia 2-5 Tahun)

Pakar Lisa Torres, Ph.D., LMFT, merekomendasikan orang tua memulai dengan otonomi tubuh, ruang pribadi, dan pilihan sederhana. Orang tua bisa menjadi teladan dengan mendukung anak mengatakan "tidak".

Misalnya, tanyakan "Apakah kamu ingin dipeluk, diberi tos, atau disentuh?" atau sampaikan "Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin dipeluk".

Ketika orang tua melakukan ini, anak mendapat izin untuk menolak sentuhan yang tidak diinginkan sekaligus belajar menghormati batasan orang lain.

2. Anak Usia Sekolah Dasar (6-9 Tahun)

Di usia ini, pembahasan bisa dilanjutkan ke topik ruang pribadi, meminta izin sebelum menyentuh, dan berhenti segera saat seseorang mengatakan tidak.

Jika melihat anak hendak memeluk seseorang tanpa izin, orang tua bisa menghentikannya dan bertanya, "Mari kita berhenti sejenak. Apakah kamu sudah meminta izin kepada teman sebelum memeluknya?"

Kalau teman tersebut tidak ingin dipeluk, ingatkan anak bahwa "Jika mereka mengatakan tidak, kita tidak akan melakukannya".

3. Anak Usia 10-12 Tahun

Torres merekomendasikan peningkatan kesadaran dengan lebih banyak membahas tekanan teman sebaya, perasaan suka, pubertas, privasi, dan keamanan tubuh. Usia ini jadi jembatan penting sebelum anak masuk masa remaja.

Percakapan di tahap ini sebaiknya tidak berhenti di satu kali pembicaraan, melainkan terus berlanjut seiring anak tumbuh dan menyadari bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.

Kapan Perlu Bantuan Tenaga Profesional

Jika anak menunjukkan kebingungan berulang soal batasan tubuh, menarik diri, atau pernah mengalami sentuhan yang tidak diinginkan, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog anak. Pendampingan profesional membantu orang tua memberi respons yang tepat tanpa memperburuk kondisi anak.

Mengajarkan anak laki-laki menghargai batasan tubuh bukan proyek sekali jadi. Mulai dari hal kecil di rumah, konsisten di setiap usia, dan biarkan anak tumbuh dengan pemahaman bahwa rasa hormat berlaku dua arah.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top