Peneliti Ungkap 11,3 Triliun Ton Es Greenland dan Antarktika Mencair

Penulis: Budi Santoso  •  Minggu, 27 September 2026 | 11:54:31 WIB
Ilustrasi lapisan es Greenland dan Antarktika yang menjadi objek studi pencairan global.

KALIMANTAN SELATAN — Sebanyak 11,3 triliun ton es dari lapisan Greenland dan Antarktika dilaporkan mencair sejak dekade 1970-an akibat pemanasan suhu laut global. Studi kolaboratif yang didukung NASA dan European Space Agency (ESA) itu mencatat dampak kenaikan permukaan laut sekitar 3 sentimeter. Temuan ini memperkuat bukti bahwa hilangnya massa es kutub didorong respons dinamis gletser terhadap pemanasan laut, bukan sekadar pencairan di permukaan.

Northumbria University memimpin analisis yang menggabungkan catatan satelit terpanjang dalam sejarah pengamatan kutub. Proyek bernama Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise (IMBIE) itu menghimpun data dari 42 survei satelit dan 27 misi antariksa berbeda. Hasilnya diterbitkan di jurnal Scientific Data, mencakup kondisi Greenland sejak 1972 dan Antarktika sejak 1979 hingga 2023.

Kontribusi Terbesar Datang dari Greenland

Dari total 11,3 triliun ton es yang hilang, mayoritas berasal dari lapisan es Greenland. Peneliti menemukan bahwa 84 persen kehilangan es dipicu gletser yang mencair lebih cepat dari waktu ke waktu. Hanya 16 persen sisanya berasal dari pencairan es di permukaan.

"Lebih dari empat perlima es yang hilang terjadi akibat gletser yang mencair lebih cepat, bukan karena mencair di permukaan. Ini menunjukkan bahwa tren jangka panjang didorong oleh respons dinamis lapisan es terhadap pemanasan laut," kata pemimpin studi Inès Otosaka dari Northumbria University.

Analisis mendetail terhadap sejarah hilangnya es juga mengungkap kenaikan permukaan laut lebih dari 3 sentimeter selama periode pengamatan.

Lonjakan Pencairan Tahunan Sejak 1990-an

Data IMBIE menunjukkan es mulai menghilang secara lebih intensif mulai dekade 1990-an. Di Greenland, pencairan tahunan pada sekitar 1980-an tercatat sekitar 60 miliar ton. Angka itu melonjak menjadi 264 miliar ton per tahun pada sekitar 2010-an.

Pola serupa terlihat di Antarktika. Pencairan tahunan di wilayah itu sekitar 48 miliar ton pada 1980-an, lalu naik tajam hingga 202 miliar ton per tahun pada 2010-an. Menurut para peneliti, percepatan ini menegaskan bahwa tren jangka panjang tidak bisa dijelaskan hanya oleh faktor musiman.

"Dengan menelusuri kembali data hingga tahun 1970-an, kita sekarang dapat melihat bagaimana lapisan es telah berubah selama setengah abad," ujar Otosaka, mengutip Space, Rabu (23/9).

Tekanan pada Ambang Batas 1,5 Derajat Celsius

Temuan ini muncul di tengah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan suhu global berpotensi menembus kenaikan lebih dari 1,5 derajat Celsius pasca masa pra-industri. Ambang batas itu disepakati hampir 200 negara dalam Perjanjian Paris 2015.

Menembus batas tersebut menandakan upaya global menahan laju pemanasan belum cukup. Data satelit jangka panjang disebut menjadi kunci untuk menguji model iklim dan mempersempit ketidakpastian proyeksi kenaikan permukaan laut di masa depan.

"Satelit memberi kita bukti tahunan di seluruh benua tentang apa yang terjadi sekarang, dan itulah yang kita butuhkan untuk menguji model dan mempersempit ketidakpastian dalam proyeksi kenaikan permukaan laut di masa depan," kata Tyler Sutterly dari University of Washington.

Peran Misi Satelit dan Data Jangka Panjang

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya keberlanjutan misi pengamatan berbasis ruang angkasa. Data yang menunjukkan perubahan iklim akibat aktivitas manusia, mulai dari manufaktur, industri, hingga pertanian, disebut dapat memperkuat argumen perubahan kebijakan dan regulasi.

"Mempertahankan misi seperti CryoSat-2 dan Sentinel, serta menjaga catatan data iklim lapisan es jangka panjang, sangat penting untuk beberapa dekade mendatang," kata Diego Fernández dari European Space Agency (ESA).

"Dengan lapisan es yang diperkirakan akan kehilangan lebih banyak es dalam beberapa dekade mendatang, penilaian global seperti IMBIE sangat penting untuk melindungi komunitas yang terdampak perubahan iklim," ujar pendiri IMBIE sekaligus salah satu penulis studi, Andrew Shepherd dari Northumbria University.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, kenaikan permukaan laut menjadi risiko langsung bagi wilayah pesisir dan kota-kota padat penduduk. Pemantauan satelit jangka panjang seperti yang dilakukan IMBIE menjadi rujukan penting dalam menyusun proyeksi dampak iklim di kawasan.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top