KALIMANTAN SELATAN — Pengujian BYD M6 DM ini bukan sekadar tes singkat di sirkuit. Saya menggunakannya untuk rutinitas harian Bogor–Jakarta Pusat yang menempuh sekitar 120 kilometer per hari, plus perjalanan luar kota di akhir pekan. Hasilnya mengubah ekspektasi saya terhadap teknologi PHEV yang selama ini saya anggap kompromistis.
PHEV sering dianggap teknologi transisi yang tidak benar-benar efisien. BYD M6 DM membuktikan sebaliknya. Baterai 18,3 kWh memberi jarak tempuh listrik murni 100 kilometer (siklus WLTP)—cukup untuk pulang-pergi Bogor–Jakarta Pusat tanpa menyentuh bensin sama sekali.
Di luar kota, tangki bensin 52 liter mengambil alih. Total daya jelajah mencapai 1.300 kilometer sekali isi penuh. Angka yang membuat perjalanan jauh terasa tanpa beban.
Sistem kerjanya sederhana: mobil otomatis menggunakan listrik untuk kecepatan rendah dan perpindahan ke mesin bensin saat dibutuhkan. Tidak ada mode yang harus dipilih manual—semua berjalan mulus tanpa terasa perpindahannya.
Perhitungan harian saya menunjukkan perbedaan mencolok. Mengisi baterai di rumah semalaman memakan biaya sekitar Rp 31 ribu untuk jarak 100 kilometer—atau Rp 310 per kilometer. Bandingkan dengan konsumsi bensin yang sekitar Rp 1.070 per kilometer.
Dari rute harian 120 kilometer, sekitar 100 kilometer bisa ditempuh dengan tenaga listrik. Mesin bensin baru bekerja untuk sisa 20 kilometer. Artinya, dalam sebulan pemakaian normal, pengeluaran bahan bakar turun drastis dibanding mobil konvensional.
Yang menarik, mobil ini tidak memaksa pemiliknya untuk selalu mengecas. Kalau sedang buru-buru di jalan, port DC fast charging 26 kW mengisi baterai dari 30 ke 80 persen dalam 30 menit. Atau langsung isi bensin Pertamax (oktan 92) di SPBU seperti biasa—mesin juga kompatibel dengan campuran etanol 10 persen.
Satu fitur yang jarang dibahas tapi berguna: Vehicle-to-Load (V2L). BYD M6 DM bisa memasok listrik untuk perangkat eksternal—berguna saat camping, kerja lapangan, atau ketika listrik rumah padam. Ini nilai tambah yang tidak dimiliki mobil konvensional di kelas harga yang sama.
BYD M6 DM bukan mobil sempurna. Tapi ia menjawab kebutuhan paling mendasar pengguna harian: biaya operasional rendah tanpa mengorbankan fleksibilitas perjalanan jauh. Setelah terbiasa dengan biaya Rp 310 per kilometer, mengeluarkan Rp 650 ribu untuk 400 kilometer bensin terasa menyakitkan—padahal dulu itu dianggap normal.
Mobil ini paling cocok untuk mereka yang punya akses charging di rumah dan rutinitas harian di bawah 100 kilometer. Untuk pengguna yang jarang ngecas dan hanya mengandalkan bensin, efisiensinya tetap baik tapi tidak se-spektakuler klaim pabrikan. Satu mobil, dua kepribadian—dan keduanya bekerja tanpa kompromi.