BANJARBARU — Perlombaan melawan waktu tengah berlangsung di Kalimantan Selatan. Di satu sisi, api masih berpotensi muncul dari lahan gambut; di sisi lain, cadangan air yang menjadi logistik utama pemadaman justru kian tertekan akibat musim kemarau.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyebut penurunan kondisi hidrologis imbas El Nino bisa mengganggu ketersediaan air. Padahal, kebutuhan air untuk membasahi lahan gambut sangat besar agar api tidak kembali menyala dari dalam tanah.
"Kalau logistik uangnya ada, tapi kalau logistik airnya enggak ada, ini susah sekali kita menanggulangi," ujarnya di Banjarbaru, Senin (24/8/2026).
Perhatian serius ditujukan ke kawasan Riam Kanan. Wilayah ini bukan sekadar sumber air untuk pemadaman, melainkan menopang kebutuhan vital masyarakat luas.
Dari data yang disampaikan Hanif, PLTA Riam Kanan berkontribusi sekitar 30 megawatt (MW) terhadap pasokan listrik. Selain itu, air dari kawasan ini juga dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, sektor perikanan, dan menjadi bahan baku utama intake PDAM bagi warga.
Ia menegaskan, penggunaan air untuk operasi pemadaman harus dihitung cermat agar tidak mengganggu fungsi strategis lainnya. "Riam Kanan selain berfungsi sebagai dam, ada PLTA yang berkontribusi 30 MW. Itu harus kalau nanti disesuaikan dan menjadi alternatif yang harus dipikirkan, maka itu harus penting disiapkan sekarang," jelas Hanif.
Langkah lanjutan pun disiapkan. Pemerintah bersama tim dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan akan melakukan pengecekan langsung ke Riam Kanan.
Pengecekan ini bertujuan memastikan kondisi terkini debit air sekaligus menyiapkan langkah antisipasi. Hanif menekankan, hal ini harus tuntas sebelum logistik air semakin menipis.
"Ini harus selesai secepatnya sebelum logistik air semakin berkurang," katanya.
Di tengah ancaman tersebut, percepatan penanganan karhutla menjadi prioritas. Pemerintah mendorong pemadaman dan pembasahan lahan secara maksimal di kawasan Guntung Damar dan Liang Anggang.
Langkah ini diambil agar kebutuhan air untuk operasi pemadaman tidak semakin membengkak di tengah tekanan penurunan cadangan air. Patroli lapangan juga terus diperkuat untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Dengan kondisi ini, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan kini menghadapi dua ancaman sekaligus: api yang masih berpotensi merebak dan ketersediaan air yang terus menyusut.