270 Anak dari Keluarga Rentan Mulai Ikuti Sekolah Rakyat di Tanah Bumbu, Bupati Sebut Beban Orang Tua Berkurang

Penulis: Andi Pratama  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:15:01 WIB
Sebanyak 270 anak dari keluarga rentan memulai hari pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Tanah Bumbu, Sabtu (15/8/2026).

BATULICIN — Mardiasah, 52 tahun, menarik napas lega. Anak bungsunya, Aditya Rehan Al-Ghazali, kini tercatat sebagai siswa kelas 1 SMA di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Tanah Bumbu. Sebelumnya, Aditya menempuh pendidikan di SMPN 1 Pagatan.

Keputusan ini bukan perkara sederhana bagi keluarga Mardiasah. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah, sementara suaminya masih dalam masa pemulihan pasca-stroke. Dengan lima orang anak, pengeluaran harian untuk satu anak yang bersekolah saja bisa mencapai Rp30 ribu hanya untuk uang jajan, belum lagi kebutuhan buku dan perlengkapan lainnya.

Beban Harian yang Kini Terangkat

Kehadiran Sekolah Rakyat mengubah perhitungan ekonomi keluarga itu. Seluruh kebutuhan selama mengikuti pendidikan telah difasilitasi oleh pemerintah daerah, sehingga ruang fiskal keluarga bisa dialihkan untuk kebutuhan pokok lain.

“Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk sekolah di sini. Semoga anak saya bisa belajar dengan baik dan memanfaatkan kesempatan ini,” ujar Mardiasah dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

Bagi Mardiasah, pendidikan adalah satu-satunya warisan yang bisa ia berikan untuk masa depan anak-anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.

Pola Asrama dan Screening Kesehatan di Hari Pertama

Pada hari pertama masuk, para peserta didik tidak langsung mengikuti kegiatan belajar mengajar. Mereka menjalani orientasi lingkungan sekolah untuk mengenal fasilitas serta tata tertib kehidupan berasrama. Selain itu, dilakukan pula screening kesehatan sebagai langkah awal memetakan kondisi fisik masing-masing siswa.

Seluruh peserta didik berasal dari berbagai kecamatan di Tanah Bumbu dan terdaftar dalam pemeringkatan sosial ekonomi desil 1 dan desil 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.

Investasi Jangka Panjang untuk 270 Keluarga

Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan investasi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ketika anak-anak dari keluarga rentan mendapatkan akses pendidikan yang layak, maka kapasitas mereka untuk keluar dari jerat kemiskinan di masa depan akan jauh lebih besar.

“Dengan adanya Sekolah Rakyat, ada 270 keluarga yang tanggung jawabnya menjadi lebih ringan dan bisa memikirkan hal-hal lain,” kata Andi Rudi Latif.

Pernyataan itu merujuk pada efek berantai yang diharapkan muncul. Orang tua tidak lagi terbebani biaya pendidikan harian, sehingga dapat memfokuskan energi dan pendapatan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi keluarga.

Harapan di Balik Seragam Baru

Di tengah keterbatasan, Mardiasah menaruh harapan besar pada perjalanan pendidikan Aditya. Ia berharap anaknya dapat menyerap ilmu dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan yang tidak dimiliki banyak anak lain di sekitarnya.

Bagi pemerintah daerah Tanah Bumbu, kisah keluarga Mardiasah menjadi pengingat bahwa akses pendidikan yang setara adalah kunci utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Sekolah Rakyat hadir bukan untuk menggantikan sekolah negeri, melainkan sebagai jembatan bagi mereka yang selama ini nyaris putus sekolah karena faktor ekonomi.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: faktakalsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top