KALIMANTAN SELATAN — Setelah melalui proses panjang sejak kontrak pertama diteken pada 1998, pengembangan Lapangan Abadi Masela akhirnya memasuki babak konstruksi. Proyek yang dikelola konsorsium PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan INPEX ini bukan sekadar proyek migas biasa. Ia adalah tulang punggung masa depan pasokan gas bumi dalam negeri.
Direktur Eksekutif ReforMiner, Komaidi Notonegoro, menegaskan bahwa proyek ini menjadi sinyal positif bagi neraca gas nasional. Pasalnya, total cadangan gas Lapangan Abadi mencapai 18,54 TSCF, atau setara 53,30 persen dari total cadangan terbukti gas nasional tahun 2025. Saat beroperasi penuh nanti, produksinya diproyeksikan menyumbang sekitar 34 persen dari produksi gas nasional saat ini.
Dari sisi ekonomi, nilai investasi yang ditanamkan setara 2,3 kali lipat realisasi investasi hulu migas nasional tahun 2025 yang tercatat US$15,42 miliar. Rinciannya, investasi di luar sunk cost mencapai US$20,946 miliar, biaya operasi US$12,978 miliar, dan biaya Abandonment and Site Restoration (ASR) sebesar US$830 juta.
Angka tersebut bukan tanpa alasan. Kajian ReforMiner menunjukkan, investasi ini berpotensi menciptakan nilai tambah terhadap perekonomian nasional hingga Rp 2.363 triliun. Efek bergulirnya juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Pada puncak konstruksi nanti, proyek ini diproyeksikan menyerap 12.000 tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, 30 persen atau sekitar 3.600 pekerja diprioritaskan berasal dari masyarakat lokal. Jika dihitung dampak tidak langsung di sektor ekonomi lain, angka penciptaan lapangan kerja ini dipastikan jauh lebih besar.
Kehadiran proyek ini juga sejalan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah. Gas dari Blok Masela akan menjadi solusi atas kebutuhan industri di Indonesia Timur, termasuk proyek petrokimia, smelter, kelistrikan, dan manufaktur yang diproyeksikan mencapai 380–680 MMSCFD.
Di sinilah peran strategis Pertamina sebagai BUMN menjadi krusial. Dengan jaringan anak usaha seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang mengelola 35.000 km pipa dan menguasai 91,36 persen niaga gas nasional, Pertamina mampu mengintegrasikan bisnis dari hulu ke hilir. Hal ini membantu mengurangi risiko pasar dan ketergantungan pada volatilitas harga LNG spot global.
Komaidi menambahkan, posisi Pertamina yang diperkuat Danantara memberikan akses pembiayaan lebih luas. Ini menurunkan risiko kredit Pertamina dalam mendanai proyek, sekaligus memberi keyakinan kepada mitra internasional seperti INPEX.
Meski groundbreaking menandai kemajuan, perjalanan proyek ini masih panjang. Tahapan krusial seperti penyelesaian FEED, Final Investment Decision (FID) yang ditargetkan akhir 2026, pelaksanaan EPC, hingga produksi perdana masih harus dilalui.
Komaidi mengingatkan, sejarah panjang proyek ini menunjukkan bahwa hambatan tak hanya datang dari aspek teknis, tetapi juga perubahan kebijakan pemerintah. Perubahan skema dari LNG terapung menjadi LNG darat misalnya, memaksa penyusunan ulang desain, lokasi, hingga keekonomian proyek.
Konsistensi kebijakan dan komitmen semua pemangku kepentingan menjadi kata kunci agar proyek vital ini benar-benar mengalirkan gas dan menggerakkan roda ekonomi nasional dalam beberapa tahun mendatang.