KALIMANTAN SELATAN — Pemandangan di ICE BSD City, Tangerang, pekan lalu berbeda dari pameran otomotif pada umumnya. Di booth Daihatsu, sebuah Gran Max dengan wajah retro mencuri perhatian. Di sisi lain, Wuling turut menampilkan karya kolaborasi serupa. Ini bukan kebetulan — ini hasil kerja bertahun-tahun untuk mengangkat modifikasi ke ranah industri yang lebih serius.
Moreno Soeprapto datang ke GIIAS 2026 pada 30 Juli 2026. Ia didampingi Andre Mulyadi, Direktur Modifikasi dan Kendaraan Listrik IMI Pusat. Keduanya memeriksa langsung booth-booth yang menampilkan hasil kerja sama IMI Modifikasi dengan National Modificator & Aftermarket Association (NMAA). Andre, yang juga pendiri NMAA dan Project Director Indonesia Modification Expo (IMX), menyebut apresiasi Moreno terhadap motorsport memang besar. Namun, perhatian ke sektor modifikasi kreatif tak kalah besarnya.
Poin krusial dari kunjungan ini bukan soal siapa datang ke mana. Modifikasi kini punya Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) sendiri dan masuk sektor ekonomi kreatif. Artinya, pelaku usaha modifikasi punya payung hukum yang jelas untuk mengurus perizinan, akses pembiayaan, hingga pengembangan bisnis.
Ini perubahan status yang fundamental. Dulu, bengkel modifikasi sering dianggap usaha informal. Kini, secara resmi diakui negara sebagai bagian dari industri kreatif. Dampaknya bisa luas: dari kemudahan perbankan memberikan kredit usaha, hingga peluang ekspor jasa modifikasi ke pasar regional.
Di booth Daihatsu, dua unit modifikasi jadi pusat perhatian. Gran Max Urban Retro mengubah total wajah kendaraan niaga menjadi bergaya retro, dengan inspirasi desain dari Daihatsu Move Canbus. Ubahannya mencakup bagian eksterior yang didominasi elemen retro-modern — bukan sekadar ubahan stiker atau pelek ganti.
Yang menarik, pabrikan tidak sekadar meminjamkan unit untuk dipajang. Mereka memberikan ruang resmi di booth pameran utama. Ini sinyal bahwa modifikator lokal kini diperlakukan sebagai bagian dari ekosistem produk, bukan komunitas yang dipisah di area belakang.
Terlepas dari kabar positif ini, ada beberapa catatan yang perlu pembaca pertimbangkan. Pertama, kolaborasi semacam ini masih terbatas pada pameran dan ajang promosi — belum tentu berlanjut ke program aftermarket resmi yang bisa dinikmati konsumen umum. Kedua, belum ada informasi detail soal volume produksi atau apakah parts dari hasil kolaborasi ini akan dijual bebas.
Ketiga, dorongan modifikasi sebagai ekonomi kreatif juga berarti persaingan akan semakin ketat. Bengkel kecil tanpa legalitas usaha yang lengkap bisa tertinggal. Di sisi lain, ini justru momentum bagi pelaku serius untuk naik kelas.
Pengakuan KBLI dan kolaborasi di GIIAS 2026 adalah langkah maju yang nyata. Namun, tolak ukur keberhasilannya bukan dari booth pameran, melainkan dari apakah industri ini bisa menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan — lapangan kerja, ekspor, dan pertumbuhan usaha kecil.
Bagi konsumen, kolaborasi ini menarik untuk disimak sebagai indikator arah industri. Jika program ini berlanjut ke produk massal dengan harga masuk akal, baru bisa disebut sukses. Sampai saat ini, statusnya masih sebatas sinyal positif yang perlu dibuktikan dalam jangka panjang.