BANJARMASIN — Ustadz H Luthfi Syarkawi Thayib menegaskan bahwa sikap ikhlas menjadi kunci utama bagi seorang Muslim untuk merasakan kenikmatan di tengah musibah yang menimpanya. Hal ini ia sampaikan di hadapan jamaah Masjid Assa'adah dalam kajian rutin "Kalam Hikmah" yang membahas nasihat Ibnu Athaillah Askandari, seorang sufi asal Mesir abad XII yang banyak dipelajari kaum Muslim Indonesia.
"Kenikmatan di balik musibah yang bisa dinikmati oleh seseorang manakala yang bersangkutan menerima dengan ikhlas musibah tersebut," ujar Ustadz Luthfi dalam tausyiahnya.
Menurut ustadz keluaran Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Martapura, Kabupaten Banjar, orang yang mampu menerima musibah dengan ikhlas menandakan ma'rifatullah atau pengenalan kepada Allah sudah betul-betul tertanam dalam dirinya. Ia menegaskan bahwa ketika ma'rifatullah seseorang sudah mantap, keluhan tidak akan muncul saat bala datang.
"Kalau ma'rifatullah seseorang sudah mantap, orang tersebut tak mengeluh ketika mendapat musibah dan datang bala. Tapi dia terima dengan ikhlas dan senang hati," jelasnya.
Dalam tausyiahnya, Ustadz Luthfi mengilustrasikan keteladanan seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Rabi'ah. Diceritakan, suami, anak, orang tua, dan kakak Rabi'ah gugur dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW. Ketika para sahabat menyampaikan kabar duka tersebut, Rabi'ah justru hanya menanyakan nasib Rasulullah SAW.
"Kemudian ketika bertemu Rasulullah SAW pulang dari peperangan, Rabi'ah menyatakan syukur, karena Rasul Muhammad SAW masih hidup, dia tidak menanyakan suami, anak, ayah dan kakak," kutip Ustadz Luthfi.
Pada kesempatan yang sama, Ustadz Luthfi mengingatkan jamaah agar tidak mempersoalkan qadha dan qadar Allah. Sikap membantah ketetapan Tuhan tersebut dinilainya sama dengan mendatangkan bala bagi diri sendiri.
"Oleh sebab itu, jangan sekali-kali mahual Allah, tapi justru sebaliknya taat atau patuhlah atas segala perintah Allah dan Rasul-Nya," pesan Ustadz Luthfi Syarkawi Thayib.