KALIMANTAN SELATAN — Viral di media sosial, kisah Nathan Thomas langsung menarik perhatian banyak orang, terutama para orang tua. Di usia di mana kebanyakan remaja baru lulus SMA, Nathan sudah berdiri di depan kelas sebagai pengajar. Ia mengampu mata kuliah teknik di Miami Dade College, sebuah institusi pendidikan tinggi di Florida.
Apa yang membuat Nathan berbeda bukan hanya usianya. Fokus utamanya adalah pembelajaran kolaboratif. Ia percaya bahwa mahasiswa belajar lebih baik saat saling bekerja sama dan berdiskusi, bukan hanya mendengarkan ceramah satu arah.
Pendekatan ini membuat kelasnya terasa lebih hidup. Mahasiswa yang awalnya mungkin skeptis karena usia dosennya, justru merasa lebih nyaman untuk bertanya dan berpendapat. Metode ini juga meniru cara kerja di dunia teknik sesungguhnya yang mengandalkan kerja tim.
Kisah Nathan menjadi pengingat bagi Mama bahwa usia bukanlah batasan untuk berprestasi. Anak-anak bisa mencapai hal luar biasa jika passion dan bakatnya ditemukan sejak awal. Namun, ini bukan berarti Mama harus memaksa si kecil menjadi jenius dalam semalam.
Yang bisa ditiru dari perjalanan Nathan adalah dukungan lingkungan. Ia bisa berkembang karena mendapat kesempatan untuk belajar lebih cepat dan mendalam di bidang yang ia sukai. Di rumah, Mama bisa mulai dengan mengamati minat utama anak, lalu menyediakan sumber belajar yang sesuai, baik itu buku, kursus online, atau proyek sederhana.
Dari metode mengajar Nathan, ada satu pesan yang bisa Mama sampaikan ke anak: belajar itu tidak harus sendirian. Konsep collaborative learning atau belajar bersama ini sangat efektif, bahkan untuk anak usia sekolah dasar.
Coba ajak si kecil belajar sains atau matematika lewat permainan kelompok. Atau, dorong ia untuk mengerjakan proyek sekolah bersama teman-temannya. Selain membuat materi lebih mudah dipahami, kebiasaan ini juga melatih kemampuan komunikasi dan empati sejak dini.
Tidak perlu menunggu anak berusia 18 tahun seperti Nathan. Tanda-tanda minat khusus biasanya sudah terlihat sejak usia 4-7 tahun. Jika si kecil terus-menerus bertanya tentang cara kerja mesin, gemar menyusun balok dalam pola rumit, atau suka menghitung, itu bisa jadi sinyal awal.
Dukung rasa ingin tahunya dengan mainan edukatif atau eksperimen sederhana. Yang terpenting, jangan bandingkan pencapaiannya dengan anak lain. Setiap anak punya kecepatan tumbuh dan minat yang berbeda, dan tugas Mama adalah menjadi fasilitator terbaiknya.