KALIMANTAN SELATAN — Sonos, pemain lama di pasar audio premium, akhirnya buka suara soal rencana besar mereka. Dalam panggilan keuangan kuartal III yang dikutip dari newsletter Lowpass, CEO Thomas Conrad mengonfirmasi akan ada pengumuman produk anyar pada September mendatang. Isyaratnya jelas: AI akan menjadi tulang punggung strategi bisnis perusahaan ke depan.
Namun, Conrad tidak tertarik pada perlombaan model AI tercepat atau terbesar. Menurutnya, pertarungan sesungguhnya ada di ranah rumah tangga nyata. "Nilai abadi ada pada apa yang mengelilingi model di rumah sungguhan: perangkat keras yang bisa bercakap dengan kualitas di setiap ruangan, sistem yang sudah tahu bentuk rumah dan cara keluarga hidup di dalamnya, serta konektivitas untuk menjangkau speaker, layanan, dan perangkat yang mengubah permintaan menjadi aksi terkoordinasi," ujar Conrad dalam sesi tersebut.
Sonos tidak membangun asisten virtual dari nol. Selama dua dekade, mereka justru menjadi pemain agnostik yang membiarkan speaker-nya bekerja sama dengan berbagai asisten suara seperti Alexa, Google Assistant, dan Siri. Strategi ini berbeda dengan Amazon dan Google yang memaksakan asisten buatan sendiri di perangkat mereka.
Pendekatan ini memberi Sonos keunggulan unik: mereka sudah memiliki peta akustik rumah pengguna, kebiasaan mendengarkan, serta infrastruktur multi-ruangan yang matang. "Itulah lingkungan operasi untuk AI di rumah, dan Sonos telah menghabiskan 20 tahun untuk membangunnya," tegas Conrad. Inilah yang membedakan mereka dari speaker murah yang hanya mengandalkan spesifikasi kertas.
Meski ambisius, langkah ini datang di saat yang tidak mudah. Sepanjang 2024, Sonos masih berdarah-darah akibat kegagalan besar aplikasi mereka. Redesain aplikasi yang kacau memaksa perusahaan melakukan pemangkasan karyawan besar-besaran dan pergantian jajaran eksekutif. Aktivitas peluncuran produk pun nyaris mati suri.
Keputusan untuk langsung terjun ke AI-powered smart home audio bisa menjadi titik balik—atau batu sandungan terakhir. Pasar speaker pintar sudah dipadati pemain besar dengan kantong tebal. Amazon dan Google terus mendorong fitur AI di perangkat mereka, sementara Sonos harus membuktikan bahwa kualitas suara dan ekosistem yang matang masih lebih relevan daripada sekadar asisten suara yang pintar bicara.
Yang jelas, September akan menjadi bulan penentu. Jika Sonos gagal menghadirkan produk yang benar-benar memanfaatkan keunggulan sistem rumah mereka, bukan tidak mungkin penggemar setianya akan mulai melirik ke merek lain. Sebaliknya, jika berhasil, ini bisa menjadi pukulan telak bagi kompetitor yang selama ini mengabaikan pentingnya pengalaman audio di seluruh rumah.