10 Lokasi Strategis Investasi Properti di Kalimantan Selatan untuk Keuntungan Jangka Panjang

Penulis: Eko Saputro  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 10:59:01 WIB
Kawasan niaga dan permukiman premium di Banjarmasin Pusat tetap menjadi primadona dengan likuiditas properti komersial yang tinggi.

Banjarmasin, Banjarbaru, dan sekitarnya bukan cuma pusat pemerintahan dan perdagangan. Kawasan penyangga seperti Martapura dan Pelaihari mulai menyerap limpahan aktivitas ekonomi. Saya beberapa kali mendengar cerita investor yang membeli tanah di pinggiran Banjarbaru lima tahun lalu, dan kini nilainya naik signifikan setelah jalan lingkar selatan diresmikan. Bukan rahasia lagi, properti di sini bergerak karena proyek nyata, bukan sekadar rumor.

Artikel ini tidak akan memberi Anda daftar harga fiktif — karena data harga properti berubah setiap pekan. Sebaliknya, saya akan memandu Anda membaca peta potensi: mana kawasan yang sudah matang, mana yang masih tumbuh, dan apa yang perlu dicek langsung ke lapangan. Ada 10 titik yang layak masuk radar, dari pusat kota hingga daerah penyangga.

1. Banjarmasin Pusat: Kawasan Niaga dan Permukiman Premium

Kota seribu sungai ini tetap menjadi primadona. Jalan Ahmad Yani, jalan Pangeran Antasari, dan kawasan Kayu Tangi merupakan pusat bisnis dan perbelanjaan. Properti komersial di sini memiliki likuiditas tinggi — mudah disewakan untuk perkantoran atau ruko.

Permukiman elite seperti di kompleks perumahan sekitar jalan Sutoyo S juga diminati ekspatriat dan pejabat. Cek langsung akses drainase dan riwayat banjir tahunan, karena beberapa titik di Banjarmasin masih langganan genangan saat pasang maksimum.

2. Banjarbaru: Ibu Kota Provinsi yang Terus Berbenah

Pemindahan pusat pemerintahan ke Banjarbaru mendorong permintaan rumah dinas dan hunian pegawai negeri. Kawasan Cempaka dan Landasan Ulin mulai padat dengan perumahan baru. Bandara Syamsudin Noor yang diperluas juga menjadi katalis — hotel dan apartemen di sekitarnya mulai banyak dicari.

Perhatikan proyek jalan lingkar yang menghubungkan Banjarbaru ke Martapura. Lahan di sepanjang koridor ini punya potensi apresiasi tinggi dalam 3-5 tahun ke depan.

3. Martapura: Kota Permata dengan Daya Tarik Wisata Religi

Martapura terkenal dengan pasar intan dan pesantren. Kawasan ini menarik wisatawan dari seluruh Indonesia, menciptakan permintaan penginapan dan ruko. Jalan Ahmad Yani Martapura dan kawasan sekitar Masjid Agung Al-Munawwarah adalah titik paling strategis untuk properti komersial.

Bagi investor hunian, perumahan di kecamatan Martapura Timur dan Martapura Kota menawarkan harga lahan yang lebih terjangkau dibanding Banjarbaru. Namun, pastikan akses air bersih dan listrik stabil — beberapa desa masih bergantung pada sumur dan genset.

4. Pelaihari: Gerbang Selatan Kalimantan Selatan

Pelaihari adalah ibu kota Kabupaten Tanah Laut. Kawasan ini menjadi pintu masuk dari arah Jawa melalui Pelabuhan Batulicin. Proyek jalan tol Trans-Kalimantan yang direncanakan melewati Pelaihari diprediksi mengerek harga tanah di kecamatan Pelaihari dan Kurau.

Investasi di sini lebih cocok untuk jangka panjang (5-10 tahun). Saat ini, infrastruktur dasar seperti jalan dan listrik masih dalam tahap peningkatan. Cek status lahan di kantor pertanahan setempat — hindari lahan sengketa atau kawasan hutan lindung.

5. Batulicin: Kawasan Pelabuhan dan Industri

Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu adalah pusat logistik dan pertambangan. Pelabuhan Batulicin melayani bongkar muat batu bara dan CPO. Properti di sini didominasi rumah kontrakan untuk pekerja tambang dan gudang.

Bagi investor dengan modal besar, membangun mess karyawan atau kos-kosan di dekat kawasan industri bisa memberikan cash flow stabil. Namun, siklus bisnis tambang fluktuatif — jangan mengandalkan satu sektor saja.

6. Tanjung: Pusat Pertambangan di Tabalong

Tanjung adalah ibu kota Kabupaten Tabalong. Kawasan ini dekat dengan tambang batu bara dan perkebunan sawit. Permintaan properti datang dari karyawan perusahaan tambang dan kontraktor. Ruko di sepanjang jalan A. Yani Tanjung dan kompleks perumahan di kecamatan Tanjung cukup aktif.

Harga tanah di Tanjung masih relatif rendah dibanding Banjarmasin. Potensi apresiasi ada jika proyek jalan lintas Kalimantan yang menghubungkan Tabalong ke Kalimantan Timur rampung.

7. Barabai: Kota Pendidikan dan Pertanian

Barabai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dikenal sebagai kota pendidikan dengan banyak sekolah dan pondok pesantren. Properti kos-kosan dan rumah kontrakan di sekitar kampus dan pesantren memiliki okupansi tinggi. Jalan H. Anang Adenansi dan jalan Perintis Kemerdekaan adalah titik strategis.

Harga lahan di Barabai masih bersahabat. Cocok untuk investor pemula yang ingin memulai dengan modal kecil. Pastikan properti dekat dengan pasar tradisional dan akses transportasi umum.

8. Kandangan: Pusat Perdagangan Hulu Sungai Selatan

Kandangan adalah pusat perdagangan dan pemerintahan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pasar Kandangan dan pusat perbelanjaan di jalan Jenderal Sudirman menjadi magnet aktivitas ekonomi. Properti ruko dan rumah toko di sini memiliki permintaan sewa yang stabil.

Bagi investor, perhatikan perkembangan kawasan industri di sekitar Kandangan. Beberapa pabrik pengolahan karet dan kelapa sawit mulai beroperasi, menambah permintaan hunian pekerja.

9. Amuntai: Kota Pusaka dengan Potensi Wisata

Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara memiliki banyak bangunan bersejarah dan pasar tradisional. Wisata religi dan budaya mulai dikembangkan, menarik pengunjung dari luar daerah. Properti di sekitar Masjid Raya Amuntai dan Pasar Amuntai bisa menjadi pilihan untuk usaha penginapan atau kafe.

Infrastruktur jalan di Amuntai masih perlu peningkatan. Namun, harga lahan yang rendah bisa menjadi keuntungan bagi investor yang sabar menunggu 5-10 tahun ke depan.

10. Marabahan: Ibu Kota Barito Kuala yang Tumbuh Pelan

Marabahan adalah pusat Kabupaten Barito Kuala. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Banjarmasin dan Banjarbaru. Proyek jalan yang menghubungkan Marabahan ke Banjarmasin mulai memperbaiki akses. Properti di sini lebih cocok untuk investasi jangka panjang dengan harga entry yang rendah.

Perhatikan status lahan — banyak area di Barito Kuala yang merupakan rawa gambut. Pastikan lahan yang Anda incar sudah bersertifikat dan bebas dari sengketa adat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa faktor utama yang mendorong kenaikan harga properti di Kalimantan Selatan?
Proyek infrastruktur seperti jalan tol Trans-Kalimantan, perluasan bandara, dan pelabuhan menjadi pendorong utama. Pertumbuhan sektor tambang dan perkebunan juga menambah permintaan hunian pekerja.

2. Kawasan mana yang paling cocok untuk investasi properti komersial?
Banjarmasin pusat (jalan Ahmad Yani, Kayu Tangi) dan Banjarbaru (sekitar bandara dan perkantoran) adalah pilihan utama. Martapura juga potensial untuk ruko di jalur wisata.

3. Apakah aman membeli properti di daerah penyangga seperti Pelaihari atau Marabahan?
Aman jika Anda teliti. Cek status lahan, akses air dan listrik, serta riwayat banjir. Investasi di daerah penyangga membutuhkan kesabaran 5-10 tahun untuk melihat apresiasi signifikan.

4. Bagaimana cara mengecek legalitas lahan di Kalimantan Selatan?
Datang langsung ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat. Minta peta bidang dan cek sertifikat. Hindari membeli lahan yang masih berstatus girik atau letter C tanpa konversi.

5. Apakah properti di kawasan tambang seperti Batulicin dan Tanjung berisiko?
Ada risiko fluktuasi harga komoditas. Jika tambang tutup, permintaan properti bisa turun drastis. Diversifikasi investasi dan pilih properti yang juga bisa dimanfaatkan untuk sektor lain (perdagangan, jasa).

Kalimantan Selatan bukan pasar properti yang bergerak cepat seperti Jakarta atau Surabaya. Keuntungan di sini datang dari kesabaran membaca peta infrastruktur dan memahami karakter lokal. Jangan tergiur harga murah tanpa verifikasi lapangan. Langkah pertama yang paling bijak: luangkan waktu seminggu untuk survei langsung ke titik-titik yang sudah disebutkan. Bawa peta, catat akses jalan, dan ngobrol dengan warga sekitar. Itu modal awal yang jauh lebih berharga dari sekadar membaca artikel.

Reporter: Eko Saputro
Back to top