KALIMANTAN SELATAN — Startup rintisan Y Combinator (angkatan musim panas 2024) ini bergerak di bidang asuransi bertenaga kecerdasan buatan. Corgi menggunakan AI untuk memberikan penawaran harga instan kepada calon nasabah dan mempercepat proses pembayaran klaim. Produknya mencakup berbagai asuransi pertanggungjawaban untuk startup, seperti general liability, perlindungan insiden terkait teknologi, hingga asuransi kendaraan dan sewa bisnis.
Laju pendanaan Corgi terbilang luar biasa. Pada Januari lalu, perusahaan mengumumkan pendanaan Seri A senilai $108 juta dengan valuasi yang tidak diungkapkan (PitchBook memperkirakannya di angka $630 juta pasca-pendanaan). Empat bulan kemudian, di awal Mei, Corgi mengumumkan Seri B senilai $160 juta dengan valuasi $1,3 miliar.
Hanya tiga pekan setelahnya, perusahaan yang sama kembali mengumumkan putaran B1 senilai $106 juta dari investor yang sama, melonjakkan valuasi menjadi $2,6 miliar. Kini, delapan pekan berselang, Forbes melaporkan adanya putaran B2 yang sudah ditutup dan menggandakan valuasi menjadi $4 miliar. Jumlah pasti pendanaan terbaru ini tidak diungkapkan, dan Corgi menolak berkomentar.
Kanyi Maqubela dari Kindred Ventures, salah satu investor Corgi, sebelumnya menyebut momentum startup sebagai pembenaran atas lonjakan valuasi. Kini, sumber Forbes mengatakan bahwa lintasan pendapatan menjadi alasan utama kenaikan valuasi terbaru.
Saat mengumumkan Seri A tujuh bulan lalu, pendiri Corgi mengklaim perusahaan telah mencapai annualized revenue run rate sebesar $40 juta. Kini, Corgi disebut berada di jalur yang tepat untuk meningkatkan run rate tersebut menjadi $450 juta pada akhir tahun.
Asuransi pada dasarnya adalah bisnis yang padat modal. Namun, Corgi memiliki tantangan lebih karena menggunakan struktur Risk Retention Group (RRG). Ini adalah skema di mana sekelompok orang atau perusahaan dalam industri yang sama mengumpulkan sumber daya untuk menanggung risiko secara kolektif.
Menurut situs Corgi, RRG tidak tunduk pada semua regulasi negara bagian yang sama seperti perusahaan asuransi tradisional. Namun, skema ini memiliki risiko besar: klaim dibayar dari dana bersama, dan klaim besar bisa menguras dana tersebut. RRG juga tidak di-backup oleh dana jaminan negara, sehingga jika dana tidak mencukupi, anggota harus menanggung kerugian. Dalam skenario terburuk, klaim besar bisa membuat RRG bangkrut.
Struktur inilah yang mungkin mendorong Corgi untuk terus memperkuat kas mereka melalui pendanaan beruntun. "Tidak mengherankan jika Corgi ingin memperbesar pundi-pundinya," tulis Forbes dalam laporannya.
Selain asuransi, Corgi juga telah berekspansi ke bisnis lain. Perusahaan kini menawarkan data room software, meskipun sempat menghadapi kontroversi terkait cara perangkat lunak tersebut dibuat (vibe coded).
Yang lebih menarik, Corgi mengoperasikan dua kedai kopi buka 24 jam di San Francisco dan Atlanta. Kedai ini menjual minuman dengan nama-nama unik yang terkadang disponsori, seperti "Brexspresso." Perusahaan berencana membuka lima gerai lagi di New York dan London. Ekspansi ke lokasi fisik jelas membutuhkan modal tambahan.
Sementara itu, Corgi juga dikenal memiliki budaya kerja yang menuntut. Pendiri sekaligus CEO Nico Laqua secara terbuka mengatakan bahwa ia berharap karyawannya bekerja tujuh hari seminggu.