KALIMANTAN SELATAN — Program Artemis NASA menargetkan pembangunan?? permanen di Bulan, sebuah tugas yang menuntut solusi energi andal di lokasi 238.900 mil dari jaringan listrik Bumi. Saat ini, badan antariksa tersebut tengah menguji regenerative fuel cell untuk digunakan di permukaan Bulan. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) memang menggunakan panel surya dan baterai lithium-ion, tapi kondisi Bulan jauh berbeda.
Siklus siang-malam di Bulan sangat panjang, dengan malam yang berlangsung hingga 14 hari Bumi. Panel surya tidak bisa menghasilkan listrik dalam gelap, dan baterai sebesar itu akan terlalu berat serta mahal untuk diluncurkan. Biaya peluncuran diukur dalam ribuan dolar per pon, sehingga bobot jadi faktor krusial.
Regenerative fuel cell bekerja dengan mengubah gas hidrogen dan oksigen menjadi air, panas, dan listrik. Kelebihan air yang dihasilkan kemudian dipecah kembali menjadi hidrogen dan oksigen untuk mengisi ulang sel. Proses ini menciptakan siklus energi tertutup yang ideal untuk misi jangka panjang.
Unit uji coba fuel cell NASA saat ini memang sebesar mobil kecil dan setinggi manusia. Namun, bobotnya tetap lebih ringan dibandingkan baterai konvensional berukuran sama. Dr. Kerrigan Cain, pimpinan tim penguji, menyatakan teknologi ini cocok untuk habitat, rover eksplorasi, dan berbagai sistem dalam program Artemis.
"Ini adalah teknologi ideal untuk habitat, eksplorasi dengan rover, dan banyak sistem yang direncanakan dalam Artemis," ujar Cain. "Mengembangkan kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan membutuhkan solusi daya dan penyimpanan energi yang sesuai. Regenerative fuel cells sangat pas untuk teka-teki itu."
Lokasi Artemis Base Camp di dekat Kutub Selatan Bulan bukan tanpa alasan. Data NASA tahun 2012 menunjukkan 22 persen permukaan Kawah Shackleton terdiri dari es air. Es ini bisa ditambang untuk memasok hidrogen dan oksigen bagi fuel cell, sehingga pasokan dari Bumi tidak diperlukan. Apollo Mission memang menemukan jejak air di sampel tanah Bulan, tapi saat itu dianggap kontaminasi hingga 2008.
NASA tidak bertaruh hanya pada satu teknologi. Badan antariksa ini juga mengembangkan reaktor nuklir 100-kilowatt yang ditargetkan diluncurkan pada 2030. Menurut Menteri Transportasi Sean Duffy, kehadiran reaktor di permukaan Bulan bisa menjadi celah hukum internasional yang melarang klaim wilayah oleh negara mana pun. AS dapat mendeklarasikan "zona larangan masuk" di sekitar reaktor, yang secara efektif menjadikan area tersebut sebagai wilayah kedaulatan AS.