KALIMANTAN SELATAN — Mata uang Garuda terapresiasi 52 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen global yang kondusif, di mana hampir seluruh mata uang utama Asia dan negara maju kompak menguat terhadap dolar AS.
Dari kawasan Asia, yen Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan 0,39 persen, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,27 persen. Yuan China dan peso Filipina sama-sama terapresiasi 0,14 persen, sementara dolar Singapura menguat 0,12 persen dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.
Satu-satunya mata uang Asia yang melemah adalah won Korea Selatan, yang terdepresiasi 0,22 persen terhadap greenback.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan potensi penguatan rupiah masih terbuka lebar. Pemicu utamanya adalah perubahan nada politik AS di Timur Tengah.
"Rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya tensi di Timur Tengah menyusul retorika Presiden AS Donald Trump yang lebih lunak terhadap Iran. Trump mengatakan bahwa dirinya mengizinkan proses negosiasi untuk terus berlanjut," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/7).
Di sisi lain, dolar AS tertekan oleh penguatan mata uang negara maju. Euro Eropa naik 0,16 persen, poundsterling Inggris menguat 0,19 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,31 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada juga mencatatkan kenaikan masing-masing 0,11 persen dan 0,12 persen.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Pasar masih mencermati perkembangan negosiasi Timur Tengah dan data ekonomi AS yang akan dirilis akhir pekan ini.
Investasi mengandung risiko.