Midjourney Gugat Balik Studio Hollywood, Minta Data Rahasia Pelatihan AI Dibuka ke Pengadilan

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Minggu, 05 Juli 2026 | 10:46:31 WIB
Midjourney menggugat balik tiga studio Hollywood terkait data pelatihan AI dalam sengketa hak cipta.

KALIMANTAN SELATAN — Perseteruan antara industri kreatif Hollywood dan pengembang kecerdasan buatan memasuki babak baru. Midjourney, pengembang generator gambar AI, secara resmi meminta pengadilan federal untuk memaksa tiga studio film raksasa—Warner Bros. Discovery, Disney, dan Universal Studios—menyerahkan informasi detail tentang bagaimana mereka menggunakan teknologi AI dalam produksi film dan acara TV mereka. Permintaan ini diajukan sebagai bagian dari strategi pembelaan dalam gugatan pelanggaran hak cipta yang dilayangkan para studio tersebut pada tahun lalu.

Gugatan Balik di Tengah Tuduhan Pelanggaran Hak Cipta

Para studio sebelumnya menuduh Midjourney melanggar hak cipta karena mampu menghasilkan gambar karakter ikonik seperti Superman dan Batman tanpa izin. Namun, Midjourney membantah tuduhan tersebut dengan argumen bahwa melatih AI menggunakan gambar yang tersedia di publik adalah praktik fair use. Lebih jauh, mereka menuding para studio justru menerapkan praktik serupa untuk mengembangkan model AI mereka sendiri.

“Jika Para Penggugat melakukan hal yang sama yang mereka tuntut, maka bukti itu menjadi inti dari pembelaan fair use dan doktrin ‘tangan kotor’ (unclean hands) yang kami ajukan,” tulis pengacara Midjourney, Bobby Ghajar, seperti dikutip dari publikasi litigasi Mealey's. Argumen ini menjadi senjata utama Midjourney untuk melemahkan posisi hukum para studio raksasa tersebut.

Data Apa yang Diminta Midjourney?

Midjourney tidak main-main dalam permintaan datanya. Mereka meminta akses ke berbagai dokumen strategis, termasuk rencana bisnis AI para studio, laporan riset, kumpulan data pelatihan (training datasets), bobot model (model weights), hingga presentasi AI yang digunakan dalam rapat dewan direksi. Informasi ini dinilai krusial untuk membuktikan apakah para studio juga melatih model AI mereka dengan data berhak cipta tanpa izin.

Namun, pada pertengahan Juni lalu, seorang hakim magistrat hanya mengizinkan para studio untuk menyerahkan informasi yang terkait dengan aplikasi AI yang berhadapan langsung dengan konsumen (consumer-facing). Sebagian besar data internal lainnya diizinkan untuk dirahasiakan. Kini, Midjourney meminta pengadilan federal untuk membatalkan perintah hakim tersebut.

Dampak Potensial untuk Industri AI dan Kreatif

Keputusan hakim federal dalam kasus ini tidak hanya menentukan nasib Midjourney dan tiga studio besar Hollywood. Lebih dari itu, putusan ini berpotensi menjadi preseden hukum yang mengatur jenis informasi apa yang boleh dan harus diserahkan ke pengadilan dalam sengketa hak cipta yang melibatkan AI. Bagi para kreator dan pengembang AI di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa pertarungan regulasi soal data pelatihan AI masih jauh dari kata selesai dan akan terus berkembang seiring gugatan-gugatan baru yang muncul.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top