KALIMANTAN SELATAN — Indonesia masih bergulat dengan masalah klasik di sektor hulu migas: investasi yang mengalir belum sebanding dengan kebutuhan. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto beberapa waktu lalu menyebutkan, realisasi investasi tahun ini hanya US$11,2 miliar. Belanja eksplorasi bahkan lebih memprihatinkan, hanya US$500 juta — jauh dari angka ideal untuk menemukan cadangan baru.
Padahal, lifting minyak 2025 ditargetkan mencapai 605.000 barel per hari, titik balik setelah hampir satu dekade merosot. Namun, kebutuhan crude nasional mencapai 1,4 juta barel per hari dan konsumsi BBM 1,63 juta barel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor dalam jumlah besar, menekan neraca perdagangan dan nilai tukar.
Bisnis hulu migas punya karakter unik: risiko tinggi, modal raksasa, dan siklus investasi yang bisa lebih dari satu dekade. Dalam eksplorasi, perusahaan bisa mengeluarkan ratusan juta dolar AS untuk survei seismik dan pengeboran, tapi belum tentu menemukan cadangan komersial. Berbeda dengan manufaktur, kepastian di sektor ini baru muncul setelah modal besar telanjur dikeluarkan.
Kondisi ini membuat perbankan domestik enggan membiayai eksplorasi. "Eksplorasi terlalu berisiko untuk dibiayai perbankan domestik," ujar Djoko Siswanto. Akibatnya, kontraktor selama ini menanggung beban sendiri, dan investasi pun bergerak lambat.
Di sinilah konsep petroleum fund menjadi krusial. Dana khusus ini dirancang untuk membiayai eksplorasi, riset, survei seismik, dan pengembangan cadangan baru tanpa bergantung pada dinamika politik anggaran tahunan. Sumbernya bisa berasal dari sebagian penerimaan migas, pajak ekspor, atau skema lain yang transparan.
Skema ini bukan barang baru. Norwegia, misalnya, sukses mengelola berkah migas menjadi dana kekayaan negara. Jika diterapkan di Indonesia, petroleum fund bisa menjadi jawaban atas masalah pembiayaan eksplorasi yang selama ini menjadi mata rantai paling lemah.
Pemerintah sebenarnya sudah meluncurkan berbagai reformasi: perizinan satu pintu, fleksibilitas kontrak gross split dan cost recovery, insentif fiskal untuk lapangan frontier dan deepwater, hingga rencana menghidupkan kembali 4.500 sumur idle. Namun, hasilnya belum optimal.
Investor hulu migas sangat sensitif terhadap kepastian. Mereka tidak hanya bertanya apakah cadangan tersedia, tetapi juga apakah aturan main stabil, kontrak dihormati, dan risiko politik bisa dikendalikan. Publik kini menunggu finalisasi