Bukan Sekadar Tawar-menawar Tarif, InDriver Bawa Model Baru ke Pasar Transportasi Online Indonesia

Penulis: Eko Saputro  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 00:08:47 WIB
InDriver hadir di Indonesia dengan model tawar-menawar harga yang unik.

KALIMANTAN SELATAN — Berbeda dengan aplikasi ride-hiling konvensional yang memasang tarif mati, InDriver memberikan kendali harga sepenuhnya ke tangan pengguna. Penumpang cukup memasukkan tujuan, lalu menawarkan nominal yang dianggap wajar. Sopir punya tiga opsi: menerima, menolak, atau mengajukan harga tandingan.

Penumpang tak sekadar mendapat satu penawaran. Setelah beberapa sopir merespons, mereka bisa memilih berdasarkan harga termurah, rating tertinggi, jenis kendaraan, atau waktu kedatangan tercepat. Tak ada lagi kenaikan harga mendadak saat hujan deras atau jam sibuk.

Komisi Lebih Ringan, Pendapatan Sopir Lebih Besar

Bagi mitra pengemudi, InDriver menawarkan potongan komisi yang lebih ramah di kantong. Jika kompetitor biasanya memotong 20 hingga 25 persen dari tarif perjalanan, platform ini hanya mengambil 10 hingga 15 persen. Artinya, meski tarif akhir yang disepakati lebih rendah dari harga pasar, sopir tetap membawa pulang pendapatan bersih yang lebih besar.

Filosofi ini berakar dari sejarah pendiriannya. Sekelompok mahasiswa di Yakutsk, Rusia, menciptakan grup bernama "Independent Drivers" di media sosial sebagai reaksi terhadap perusahaan taksi yang menaikkan tarif dua kali lipat saat suhu ekstrem minus 40 derajat Celsius. Mereka ingin harga ditentukan oleh kesepakatan dua pihak, bukan oleh satu perusahaan.

Dari Yakutsk ke 700 Kota, InDriver Kini Garap Pasar Indonesia

Sejak peluncuran resminya, InDriver—yang kini melakukan rebranding menjadi inDrive—telah berekspansi ke lebih dari 45 negara dan 700 kota di seluruh dunia. Di Indonesia, platform ini menyasar karakteristik masyarakat yang gemar bertransaksi dengan sistem tawar-menawar.

Fitur keamanan tetap menjadi prioritas meskipun proses transaksinya berbeda. Pengguna bisa membagikan lokasi perjalanan secara real-time ke keluarga atau teman. Bagi sopir, sistem ini memberikan otonomi lebih besar karena mereka tidak dipaksa menerima orderan dengan harga terlalu rendah atau lokasi terlalu jauh.

Model "Real-Time Deals" ini membuktikan bahwa pasar transportasi online Indonesia masih punya ruang untuk pendekatan yang lebih manusiawi—di mana harga bukan lagi angka yang dipaksakan algoritma, melainkan hasil kesepakatan dua manusia yang saling membutuhkan.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: mawar#4192 This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top