Harga Solar Non-Subsidi Tembus Rp 18 Ribu per Liter, Motoris Klotok Wisata di Banjarmasin Keluhkan Omzet Terjun Bebas

Penulis: Andi Pratama  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 12:45:53 WIB
Motoris klotok wisata di Banjarmasin mengeluhkan omzet menurun akibat harga solar non-subsidi melonjak hingga Rp 18 ribu per liter.

BANJARMASIN — Kenaikan harga solar non-subsidi yang menembus angka Rp 18 ribu per liter membuat para motoris klotok wisata di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjerit. Mereka mengaku omzet harian anjlok drastis karena biaya operasional membengkak hingga dua kali lipat dari kondisi normal.

Awal Mula: Dari Rp 10.800 ke Rp 18.000 dalam Beberapa Pekan

Para motoris klotok mengaku kaget dengan lonjakan harga solar yang terjadi secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, harga solar non-subsidi di SPBU sekitar Banjarmasin masih berkisar Rp 10.800 hingga Rp 12.000 per liter. Kini, di sejumlah SPBU, harga sudah tembus Rp 18.000 per liter.

“Kami tidak menyangka akan separah ini. Biasanya dalam sehari kami habiskan 20-30 liter solar untuk operasional. Sekarang, dengan harga segitu, modal habis untuk BBM saja,” ujar seorang motoris klotok yang enggan disebutkan namanya.

Dampak Langsung: Omzet Turun, Jam Operasional Dipangkas

Akibat biaya bahan bakar yang membengkak, para motoris mulai mengurangi jam operasional. Jika biasanya mereka bisa melayani wisatawan dari pagi hingga sore, kini banyak yang hanya beroperasi setengah hari. Beberapa bahkan memilih untuk tidak melaut sama sekali jika tidak ada pesanan.

“Dulu dalam sehari bisa dapat Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu bersih. Sekarang, setelah dipotong solar, kadang cuma dapat Rp 200 ribu. Itu pun kalau ada penumpang,” tambahnya.

Tarif sewa klotok untuk wisata susur sungai di Banjarmasin saat ini rata-rata Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per perjalanan. Namun, motoris mengaku tidak bisa serta-merta menaikkan tarif karena khawatir ditinggalkan pelanggan.

Mengapa Solar Subsidi Tidak Bisa Diakses?

Klotok wisata termasuk dalam kategori usaha jasa pariwisata, bukan angkutan umum barang atau penumpang reguler. Karena itu, motoris klotok tidak bisa membeli solar bersubsidi yang harganya masih di kisaran Rp 6.800 per liter. Mereka harus membeli solar non-subsidi atau solar industri yang harganya mengikuti mekanisme pasar.

“Kami sudah coba minta rekomendasi ke dinas terkait, tapi katanya klotok wisata tidak masuk kategori yang berhak dapat solar subsidi. Jadi ya terpaksa beli yang mahal,” keluh motoris lainnya.

Apa Langkah Selanjutnya?

Para motoris berharap pemerintah kota atau provinsi bisa memberikan solusi, misalnya dengan menyediakan BBM khusus untuk sektor pariwisata sungai dengan harga lebih terjangkau. Sebagian dari mereka juga mulai menjajaki penggunaan bahan bakar alternatif, meski terkendala biaya konversi mesin.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perhubungan atau Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin terkait keluhan para motoris klotok. Namun, asosiasi pengusaha klotok setempat berencana mengajukan audiensi ke Pemkot Banjarmasin dalam waktu dekat untuk membahas solusi jangka pendek.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top