BANJARMASIN — Kondisi ekonomi yang melambat mulai berdampak langsung pada denyut nadi usaha kecil di Kalimantan Selatan. Pelaku UMKM di sejumlah kabupaten dan kota mengeluhkan penurunan omzet yang signifikan, sementara beban produksi justru kian berat.
Penurunan daya beli masyarakat disebut sebagai pemicu utama lesunya transaksi. Seorang pedagang di Pasar Sudimampir, Banjarmasin, mengaku pendapatannya menyusut hampir separuh dibanding bulan lalu.
"Pembeli sepi, barang banyak yang tidak laku. Tapi harga bahan baku terus naik," ujarnya kepada wartawan, pekan ini.
Kondisi serupa dirasakan perajin anyaman di Kabupaten Banjar. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli rotan dan cat, sementara permintaan dari luar daerah menurun drastis.
Kenaikan harga bahan baku dan ongkos logistik menjadi dua faktor utama yang menekan margin keuntungan. Pelaku usaha di sektor kuliner dan kerajinan paling merasakan dampaknya.
Seorang pengusaha olahan ikan di Kotabaru menyebut, harga minyak goreng dan tepung naik hingga 15 persen dalam dua bulan terakhir. "Kami terpaksa menaikkan harga jual sedikit, tapi tetap saja pembeli berkurang," katanya.
Data dari Dinas Koperasi dan UKM Kalsel mencatat, sektor UMKM menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi. Tekanan pada sektor ini berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi daerah.
Untuk tetap hidup, sebagian pelaku usaha mulai beralih ke penjualan daring. Mereka memanfaatkan media sosial dan platform e-dagang untuk menjangkau pembeli di luar Kalsel.
Beberapa lainnya memilih memangkas jumlah produksi dan mengurangi jam operasional. "Lebih baik produksi sedikit daripada rugi besar," ujar seorang perajin batik di Martapura.
Pemerintah provinsi sendiri tengah mengkaji skema bantuan permodalan dan pelatihan digital bagi UMKM. Namun, hingga berita ini diturunkan, kebijakan konkret belum diumumkan secara resmi.