KALIMANTAN SELATAN — Amazon memperluas ambisinya di bisnis konektivitas satelit dengan mengajukan izin operasi jaringan baru ke Federal Communications Commission (FCC), regulator telekomunikasi Amerika Serikat. Jaringan yang terdiri dari 5.105 satelit ini dirancang untuk memberikan layanan langsung ke ponsel konsumen, bukan sekadar internet broadband seperti yang ditawarkan oleh proyek Kuiper milik Amazon sendiri.
Strategi Amazon Menggabungkan Spektrum Globalstar
Rencana ini merupakan kelanjutan dari akuisisi operasi satelit Globalstar yang dilakukan Amazon beberapa bulan lalu. Globalstar selama ini dikenal sebagai penyedia konektivitas darurat untuk iPhone Apple dan perangkat IoT. Melalui aplikasi FCC terbaru, Amazon mengungkapkan niatnya memanfaatkan spektrum radio milik Globalstar untuk memperluas layanan dan mengintegrasikannya dengan Project Kuiper, jaringan internet broadband satelit Amazon yang sudah berjalan.
SpaceX Sudah Lebih Dulu Meluncur, Tapi Minat Pasar Masih Mini
SpaceX, melalui jaringan Starlink, telah mendominasi pasar internet satelit dan layanan satelit-ke-ponsel. Perusahaan milik Elon Musk itu bahkan dilaporkan akan mengeluarkan US$20 miliar (sekitar Rp330 triliun) untuk membeli spektrum dari Echostar guna membangun konstelasi selulernya. Langkah ini disebut sebagai salah satu strategi pertumbuhan utama dalam dokumen IPO SpaceX.
Namun, potensi pasar layanan koneksi satelit-ke-ponsel masih dipertanyakan. Sebagian besar layanan ini menawarkan bandwidth terbatas, hanya cocok untuk pesan teks atau situasi darurat. CEO T-Mobile, Srini Gopalan, dalam sebuah konferensi pada Mei lalu mengungkapkan data mengejutkan: penggunaan satelit di jaringan T-Mobile hanya 0,0002 persen dari total lalu lintas jaringan. "Itu tiga angka nol," kata Gopalan. "Kami melihatnya sebagian besar terkonsentrasi di taman nasional." T-Mobile sendiri menggunakan satelit SpaceX untuk menawarkan layanan konektivitas ke pelanggannya.
Tantangan Roket: Amazon Belum Punya Armada Sendiri
Amazon menghadapi tantangan logistik yang tak kalah besar. Perusahaan tidak memiliki armada roket sendiri. Mereka tadinya mengandalkan Blue Origin, perusahaan antariksa milik pendiri Amazon Jeff Bezos, untuk meluncurkan satelit-satelitnya. Namun, roket New Glenn milik Blue Origin mengalami penundaan berturut-turut dan kini bahkan terhenti setelah anomali yang menghancurkan landasan peluncurannya pada Mei lalu. Akibatnya, Amazon harus meminta perpanjangan tenggat waktu dari FCC untuk membangun jaringannya.
Modal Besar vs Kebutuhan Mendesak: Siapa Bertahan?
Meskipun tertinggal dari SpaceX dalam hal eksekusi, Amazon memiliki satu keunggulan yang sulit ditandingi: modal. Perusahaan tercatat memiliki aset lancar sebesar US$255 miliar (sekitar Rp4.207 triliun) hingga akhir April. Dengan dana segar tersebut, Amazon bisa terus berinvestasi dalam jangka panjang tanpa tekanan finansial langsung. Sebaliknya, kebutuhan modal SpaceX untuk ekspansi tampak jauh lebih mendesak.
Bagi konsumen Indonesia, persaingan ini pada akhirnya bisa membawa dampak positif: lebih banyak pilihan layanan konektivitas satelit, potensi harga yang lebih kompetitif, dan akses internet di daerah terpencil yang semakin luas. Namun, realisasi layanan ini masih harus menunggu hingga setidaknya 2028, dengan segala dinamika regulasi dan teknis yang masih harus dilewati.