Pencarian

Daya Beli Masyarakat Tertekan, Sektor Perkebunan Kalsel Bergairah: Petani Sawit dan Karet Nikmati Harga Jual Tinggi

Rabu, 03 Juni 2026 • 15:11:31 WIB
Daya Beli Masyarakat Tertekan, Sektor Perkebunan Kalsel Bergairah: Petani Sawit dan Karet Nikmati Harga Jual Tinggi
Petani sawit di Kotabaru menikmati harga TBS yang stabil di atas biaya produksi.

BANJARMASIN — Fenomena ini tampak jelas di kabupaten sentra sawit dan karet. Alih-alih lesu, aktivitas kebun dan pabrik pengolahan justru meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Petani kelapa sawit menikmati harga tandan buah segar (TBS) yang bertahan di level tinggi, sementara petani karet mulai bernapas lega setelah harga getah naik bertahap.

Harga TBS Sawit Stabil, Petani Kembali Bergairah

Di Kabupaten Kotabaru dan Tanah Bumbu, harga TBS kelapa sawit petani swadaya tercatat di kisaran Rp 2.800 hingga Rp 3.100 per kilogram. Angka ini jauh di atas biaya produksi yang hanya sekitar Rp 1.500 per kilogram. “Alhamdulillah, sekarang untungnya lumayan. Biaya pupuk dan transportasi memang naik, tapi harga jual masih bisa menutup,” ujar seorang petani sawit di Kecamatan Sungai Durian, Kotabaru.

Kondisi ini mendorong petani merawat kebun lebih intensif. Beberapa bahkan kembali melakukan perluasan lahan secara mandiri meski regulasi perizinan masih menjadi kendala. Aktivitas pabrik kelapa sawit (PKS) di daerah itu dilaporkan beroperasi dengan kapasitas penuh.

Karet Mulai Bangkit Setelah Dua Tahun Terpuruk

Berbeda dengan sawit, sektor karet di Kalsel sempat terpuruk hampir dua tahun akibat harga anjlok di bawah Rp 5.000 per kilogram. Namun, dalam tiga bulan terakhir, harga getah karet di tingkat petani di Kabupaten Banjar dan Tapin perlahan merangkak naik ke angka Rp 7.500 hingga Rp 8.000 per kilogram.

Kenaikan ini belum sepenuhnya mengembalikan keuntungan besar, tetapi cukup membuat petani kembali menyadap kebun yang sempat terbengkalai. “Dulu banyak yang tebang pohon karet, ganti sawit. Sekarang yang masih punya kebun karet mulai sadap lagi,” kata seorang pengumpul karet di Martapura.

Daya Beli Warga Perkotaan Justru Tertekan

Di sisi lain, data inflasi daerah menunjukkan tekanan pada daya beli masyarakat perkotaan. Harga beras, minyak goreng, dan cabai rawit di pasar tradisional Banjarmasin dan Banjarbaru masih tinggi. Pedagang di Pasar Sudimampir mengeluhkan omzet menurun drastis karena pembeli mengurangi frekuensi belanja. “Dulu beli beras 10 kilogram, sekarang beli 5 kilogram saja. Uangnya untuk kebutuhan lain,” ucap seorang pedagang sembako.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan ekonomi antara petani komoditas ekspor dan warga yang bergantung pada sektor jasa serta perdagangan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan terus mendorong program diversifikasi agar petani tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas.

Apa Langkah Selanjutnya?

Pemprov Kalsel berencana memperkuat kemitraan antara petani dengan perusahaan inti untuk menjamin serapan hasil produksi. Selain itu, program bantuan bibit unggul dan pupuk bersubsidi akan difokuskan pada petani sawit dan karet di daerah terpencil. “Kami ingin gairah ini tidak hanya sesaat. Stabilitas harga dan akses pasar harus dijaga,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel dalam rapat koordinasi pekan lalu.

Para pengamat ekonomi daerah menilai fenomena ini menjadi sinyal bahwa sektor perkebunan masih menjadi tulang punggung ekonomi Kalsel. Namun, mereka mengingatkan agar pemerintah tidak lengah terhadap sektor lain yang mulai melemah akibat turunnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Bagikan
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks