BANJARMASIN — Film dokumenter "Pesta Babi" dinilai memiliki peran strategis sebagai arsip alternatif yang merekam realitas dari sudut pandang warga biasa. Penilaian ini disampaikan oleh Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, yang melihat film tersebut sebagai alat untuk menyeimbangkan informasi yang selama ini didominasi oleh narasi resmi.
Mengapa Film Dokumenter Bisa Jadi Arsip Tandingan?
Menurut Nasrullah, humas pemerintah dan korporasi selama ini memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik melalui siaran pers dan konten terkurasi. Narasi yang dihasilkan cenderung seragam dan sering kali tidak merepresentasikan pengalaman langsung masyarakat di lapangan.
"Film dokumenter seperti Pesta Babi menawarkan catatan yang lebih jujur dan dekat dengan realitas sosial. Ini menjadi arsip tandingan yang penting," ujar Nasrullah.
Apa Isi Film Pesta Babi?
Film "Pesta Babi" sendiri merupakan karya dokumenter yang mengangkat kehidupan dan tradisi masyarakat di Kalimantan Selatan. Film ini menyoroti praktik budaya yang jarang tersentuh liputan media arus utama, khususnya yang berkaitan dengan konsumsi dan ritual seputar babi di komunitas tertentu.
Kehadiran film ini menjadi penting di tengah gempuran konten seragam dari kanal resmi pemerintah maupun perusahaan. Dokumenter semacam ini, kata Nasrullah, memungkinkan publik mengakses perspektif yang lebih beragam.
Dampak Dominasi Narasi Humas bagi Masyarakat
Nasrullah menjelaskan bahwa dominasi narasi humas tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga sangat terasa di daerah. Di Kalimantan Selatan, informasi tentang kebijakan pembangunan atau program sosial sering kali hanya disampaikan dari sisi pencapaian institusi.
"Masyarakat jarang diajak bicara. Yang muncul di permukaan hanyalah keberhasilan proyek, bukan dampak sosial atau budaya yang dirasakan warga," tambahnya.
Dengan adanya arsip tandingan seperti film dokumenter, warga memiliki referensi lain untuk membandingkan informasi yang mereka terima setiap hari.
Apa Langkah Selanjutnya?
Nasrullah berharap film dokumenter independen semacam "Pesta Babi" bisa terus diproduksi dan didistribusikan secara luas. Menurutnya, semakin banyak arsip tandingan yang tersedia, semakin kaya pula pemahaman publik tentang realitas sosial di sekitar mereka.
Ia juga mendorong akademisi dan pegiat budaya di Kalimantan Selatan untuk aktif mendokumentasikan praktik-praktik lokal yang rentan tergerus oleh narasi dominan. "Ini bukan sekadar soal film, tapi soal siapa yang berhak bercerita tentang hidup kita sendiri," pungkasnya.